Sabtu, 05 November 2011


Penyakit Alzhaimer dan Implikasinya Terhadap Perubahan
Pola Kepribadian Lanjut usia

A. Pendahuluan

Keberhasilan pembangunan nasional, khususnya dibidang kesehatan, menghasilkan dampak positif yakni meningkatnya umur harapan hidup waktu lahir. Di Indonesia tahun 1995 - 2000, pada pria 63, 6 tahun dan pada wanita 66,7 tahun. Jumlah lansia pada tahun 2000 diperkirakan 15.262.199 orang atau 7,28 % dari jumlah penduduk (Anwar, 1994 ).
            Sebelum menelaah lebih lanjut mengenai aspek kesehatan lanjut usia ( lansia ), ada baiknya kita melihat batasan-batasan seseorang dikatakan lansia. Seseorang dapat dikategorikan lansia dapat  dipandang dari segi fisik, terjadi kemampuan fisik pada lanjutusia, dimana intensitas dan kecepatannya sangat beragam pada masing-masing individu. Tidak demikian halnya dengan kemampuan psikisnya ( fungsi kognisi dan emosi ). Pada usia lanjut terungkap bahwa kepribadian tetap berkembang dan setiap individu ingin mencapai apa yang disebut dengan integritas ego. Kepribadian yang stabil perlu diraih oleh lansia, sehingga dalam menghadapi perubahan fisik maupun kemunduran fungsi lainnya dapat dihadapi dengan tetap tenang. Para lansia perlu mengetahui sacara realistis apa yang akan terjadi pada masa tua dengan sewajarnya.
            Menjadi tua adalah merupakan hal yang tidak dapat dihindari dalam proses kehidupan manusia (Schale dan Willis, 1991) Erickson (1991) menerangkan bahwa usia lanjut merupakan tahap perkembangan yang harus dijalani manusia dengan tugas menjaga keseimbangan antara intergritas dan putus asa (Despan). Nengarten (1985) menyatakan bahwa batasan lansia harus dilihat dari kondisi fisik dan mentalnya. Untuk memperjelas konsep yang berkaitan dengan keberadaan lansia, maka digunakan batasan berdasarkan umur kalender walaupun dianggap kurang memuaskan, mengingat umur kalender bukan merupakan umur psikologis (Duset, 1977). Tilker (1975) mengemukakan bahwa masa usia lanjut dimulai pada usia lebih kurang 60 tahun. Palmutter dan Hall (1985) menyatakan bahwa masa tua atau lansia pada usia 60 tahun dan dibedakan menjadi masa tua awal (60 –75 ) tahun dan masa tua akhir (75 tahun – meninggal). Haditono menyebutkan bahwa masa tua dimulai pada usia 65 tahun untuk menandai masa tua, dengan alasan bahwa individu pada usia tersebut banyak memperoleh fasilitas.
            Berbagai resiko penyakit yang sering muncul pada lansia adalah sesuatu yang alamiah dikarenakan menurunnya berbagai fungsi fisik dan psikis. Baik perubahan pada fungsi tubuh, struktur organ, pengaruh obat, frekuensi penyakit dan faktor pengaruh dari luar, sifat penyakit pada lanjut usia berbeda ( Departemen Kesehatan RI), yaitu:
a.       Gejala penyakit yang lebih tersamar.
b.      Gejala atipik dibanding usia muda.
c.        Gejala non spesifik.
d.      Gejala penyakit yang berubah-ubah, karena usia lanjut sering mengidap lebih dari dua macam penyakit.
e.       Ambang rasa sakit lebih tinggi.
f.       Inaktivitas sering menyamarkan keluhan yang dialami dan dirasakan
Menurut International Institute on Aging, World Health Organization ( Malta, 1998), penyakit alzhaimer digolongkan kepada penyakit degeneratif. Alzhaimer disebabkan oleh proses degeneratif yang progresif diotak dengan proses kematian pasif sel-sel dipermukaan bagian-bagian otak (cortex celebral) tertentu yang memantau pikiran, daya ingat, memori dan bahasa.
B. Pembahasan

I. Pengertian Penyakit Alzhaimer

            Penyakit alzhaimer (Alzhaimer Disease-AD), adalah gangguan penurunan fungsi kognitif seperti daya ingat dan daya pikir lainnya. Pasien menjadi sulit belajar hal baru, mengingat nama benda, mencari kata-kata untuk diucapkan, kemampuan mengenali ruang, waktu, benda atau orang, hitung-menghitung (kalkulasi) kemampuan membuat perencanaan dan berabstraksi.
Dimensia pada usia lanjut sering dianggap lumrah oleh masyarakat Indonesia, karena dianggap usia lanjut adalah merupakan bagian dari fase kehidupan, dimana seseorang mengalami perubahan secara biologis, psikologis maupun sosial, kulit menjadi keriput, kekuatan otot berkurang, daya ingat yang mulai menurun kadangkala menganggu aktifitas kehidupan sehari-hari. Tidak jarang hal ini membuat ketegangan dan salah pengertian diantara anggota keluarga. Berbagai peristiwa kehidupan seperti kematian pasangan hidup, anak menikah, pensiun, menderita penyakit kronis, dapat menjadi beban pikiran dan sumber stress.
            Kemunduran fungsi kognitif ini lazimnya terjadi pada usia antara 40 – 90 tahun, penyebabnya kemungkinan besar adalah hilangnya beberapa fungsi otak akibat hilang atau rusaknya sel-sel otak dalam jumlah besar termasuk menurunya zat kimia dalam otak. Biasanya volume otak mengecil sehingga rongga-rongga otak melebar.  Para ahli umumnya belum dapat mengatahui secara pasti diduga merupakan interaksi antara faktor keturunan (genetik) dengan faktor lingkungan. Gejala pertama penyakit alzhaimer biasanya adalah gangguan memori daya ingat, gangguan bahasa dan disorientasi. Penyakit ini umumnya dijumpai pada usia 65 tahun keatas, tetapi tidak menutup kemungkinan ditemukan pada usia yang lebih muda, walaupun persentasenya sangat sedikit. Dinegara maju sekitar 3 persen dari orang berusia diatas 65 sampai 74 tahun menderita penyakit alzhaimer dan persentase ini meningkat hingga 50 persen pada usia diatas 85 tahun. Penelitian di Eropa antara tahun 1980-1990 oleh Rocca dan kawan-kawan (1991) menunjukan angka kejadian yang meningkat seiring bertambahnya umur , yaitu masing-masing 0.02, 0.3, 3.1 dan 10.8 persen pada kelompok umur 30-59, 70-79, dan 80-89 tahun. Penyakit alzhaimer paling banyak terjadi di Eropa dan Amerika Serikat, dibandingkan kepikunan akibat gangguan peredaran darah (stroke). Tetapi kebalikannya terjadi di Rusia, Jepang dan China.
            Gangguan dari fungsi kognisi mudah dikenal dan terutama mengenai daya ingat atau memori daya ingat. Mekanisme daya ingat dapat dibagi kedalam empat bagian :
1)      Kemampuan menyimpan informasi untuk waktu singkat, umpamanya mengingat nomor telepon sampai selesai memutarnya dengan cepat. memori ini disebut memori seketika (immediated term memory).
2)      Kemampuan menyimpan informasi lebih lama dan lebih banyak (memori jangka pendek atau short term memory).
3)      Kemampuan menyimpan informasi jangka panjang (long term memory) contohnya mengingat kejadian yang dialami dan berhubungan dengan waktu. Serta kemampuan untuk mengingat arti kata dan simbolik atau semantic.
4)      Kemampuan yang merupakan kombinasi ( perpaduan ) antara immadiated term, short term dan lomg term memory. 
Penyakit alzhaimer juga menunjukan gejala keterlupaan (forgetfulness) yang lebih dikenal di masyarakat kita dengan istilah pikun, bahkan laju penyakitnya sering diawali oleh gejala itu. Tetapi selama ini masih dianggap ada batas tegas antara gejala mudah-lupa yang normal dengan penyakit alzhaimer yang menunjukan gejala mudah-lupa tetapi tidak normal lagi.
     Pada beberapa decade terakhir ini ada penemuan baru yang menyatakan bahwa penyakit alzhaimer merupakan penyakit kepikunan (dimensia) yang awal perjalanan penyakitnya sering dimulai dengan keterlupaan yang normal tersebut. Ternyata antara kedua kondisi itu ada stadium transisi yang oleh para pakar disebut Mild Cognitive Impairment (MCI). MCI atau gangguan kognitif ringan menunjukan serentetan gejala khusus yang tidak sama dengan mudah-lupa normal dan penyakit alzhaimer. Orang yang menyandang MCI mempunyai resiko tinggi untuk mengidap penyakit alzhaimer dengan rasio 12 sampai 15 persen setiap tahun. Banyak penderita alzhaimer yang pada awal perjalanan penyakitnya menunjukan gejala MCI.  MCI merupakan resiko tinggi untuk alzhaimer, tetapi perlu diketahui bahwa diagnosis MCI bukan berarti bahwa penyandangnya harus selalu akan menderita alzhaimer.
Di Amerika Serikat dan kanada pada tahun 1999 telah didirikan pusat penelitian yang dinamakan Memory Impairment Study untuk melakukan penelitian terhadap pengaruh obat-obatan pada para penyandang MCI berusia 55 sampai 90 tahun.
Sampai saat ini intervensi farmakologis (obat), fisik dan mental terhadap penyakit alzhaimer masih dilakukan dengan criteria adanya tanda kepikunan mulai dari stadium ringan sampai berat. Padahal kenyataan membuktikan bahwa intervensi pada penyakit alzhaimer makin efektif hasilnya jika diberikan pada stadium sedini mungkin.
Dengan adanya diagnosis MCI yang kriterianya antara lain tidak adanya tanda-tanda kepikunan, tetapi merupakan resiko tinggi untuk penyakit alzhaimer.
Sudah banyak upaya dilakukan untuk memerangi kepikunan alzhaimer ini. WHO telah mengembangkan criteria untuk kepikunan dalam Tenth Revision of the International Classification of Diseases (ICD-10) yang dapat digunakan secara internasional.  Telah dikembangkan juga berbagai tes kognitif dan criteria evaluasi. Semua ini dalam rangka menyamakan patokan penelitian, pengobatan dan penyembuhan. Di Amerika Serikat terdapat sekitar empat juta penderita alzhaimer dan 2,7 juta penyandang MCI, 234 orang normal dan 106 penderita alzhaimer ringan dan melaporkan bahwa MCI dapat berkembang menjadi alzhaimer dengan laju 12 persen setahun, sedangkan pada orang normal hanya dengan laju 2 persen.
Secara klinis, keluhan mudah lupa pada orang normal, pada MCI dan pada alzhaimer dapat dibedakan. Pada umumnya gejala MCI adalah keluhan mudah lupa, kemampuan daya ingat yang abnormal bagi ukuran usia dan pendidikan, aktivitas kehidupan sehari-hari normal, fungsi kognitif secara umum normal dan sedikit tanda kepikunan. Gejala mudah lupa pada ketiga kondisi itu mempunyai ciri masing-masing. 
2. Alzhaimer dan implikasinya terhadap perubahan pola kepribadian
    lansia.
            Penyebab penyakit alzhaimer sampai saat ini belum diketahui secara pasti. Tadinya penyakit ini diduga merupakan interaksi antara factor  keturunan (genetic) dengan factor lingkungan. Gejala psikiatrik dan perubahan perilaku pada penderita alzhaimer sangat sering terjadi, yang mengganggu pasien maupun keluarganya. Pasien dapat menjadi agresif, keluyuran (wandering), kegelisahan yang amat sangat (restlessness), adanya waham (pikiran yang aneh dan tidak logis), halusinasi, gangguan tidur dan kecemasan. Penyebab terjadinya perubahan perilaku yang menyebabkan berubahnya pola kepribadian yaitu dengan adanya perubahan zat-zat kimia diotak  (neurotransmitter) maupun mengecilnya volume otak akibat kerusakan sel otak. Volume otak penderita alzhaimer mengecil dan mengkerut  sehingga beberapa fungsi otak  dapat terganggu. Secara psikologis, pasien mengalami gangguan seperti waham (delusi). Pasien mempunyai pikiran atau keyakinan yang keliru , namun tetap diyakininya betul. Kekeliruan itu sulit dikoreksi meski disodorkan bukti bahwa hal itu tidak benar .
            Penyakit alzhaimer sering menyebabkan efek samping dikelompokkan menjadi beberapa bagian. Meskipun masalah memori merupakan suatu tanda adanya gangguan, pada beberapa hal kemungkinan besar mengarah pada perilaku atau gangguan kejiwaan yang menjadikan perawatan dirumah menjadi sukar untuk dilakukan dan pada beberapa kasus alzhaimer menjadi sesuatu yang mustahil (Kumar, Koss, Metzler, Moore & Friedland, 1988….). Masalah kejiwaan adalah masalah yang paling menonjol pada pasien alzhaimer (Patterson,et.al, 1999). Beberapa perubahan pola kepribadian penting juga untuk dipahami, sehingga kita dapat merasakan dan memberikan kepedulian pada beban yang tengah mereka alami. (Petry et al, 1988)
            Perubahan perilaku yang tidak tampak dan mempunyai kesan, merupakan petunjuk awal terjadinya gangguan alzhaimer (Petry et al, 1988). Rubin et al (1986) dalam membandingkan antara gangguan kejiwaan yang berat, dan gangguan yang ringan, serta pokok permasalahan yang biasa pada masa lansia digunakan analisis factor untuk mengidentifikasi empat ukuran pada kepribadian dan perilaku dimana terjadi perubahan pada: a). perilaku pasif, yang terdiri atas lamban, gelisah, pemurung dan kurang mendengarkan) dimana terjadi dalam 66 persen gangguan alzhaimer ringan, 50 persen kelompok gangguan alzhaimer berat dan tidak ada sama sekali pada lansia normal, b). perilaku egosentris (mementingkan diri sendiri, tidak ada perhatian dan kebersahajaan untuk orang lain serta kehilangan control emosi) yang terjadi dalam 34 persen kelompok gangguan, 31 persen pada kelompok gangguan berat dan 4 persen dari kelompok control, c) perilaku yang terganggu (emosional dan sangat aktif) dimana terjadi dalam 30 persen gangguan dan 30 persen gangguan berat dan 5 persen pada lansia normal, d) kecurigaan dimana biasanya jarang terjadi dan hanya ditemukan pada 5 persen kelompok gangguan secara keseluruhan, beberapa macam perubahan perilaku digambarkan untuk 77 persen kelompok gangguan alzhaimer ringan, 62 persen pada kelompok gangguan alzhaimer berat dan hanya 10 persen yang normal. Hal ini berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Case Western University/University Hospital Alzaimer terhadap 22 pasien. Dengan menggunakan diagnosa pada Diagnosis and Statistical Manualof Mental Disorders, semua subyek diterima untuk melengkapi pemeriksaan neurologis termasuk CT pada pengamatan kesan. Rata-rata umur pasien adalah 72 tahun dengan rata-rata telah menempuh pendidikan 12,6 tahun. Pola kepribadian yang diamati mencakup  variabel personalitas yaitu conscientiousness (bertanggungjawab), neurotitism (kegelisahan), extraversion (ekstraversi), agreeableness (kecocokan), dan openess (keterbukaan). Hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa ada kecenderungan perubahan pola perubahan kepribadian lansia setelah menderita alzhaimer.
3. Terapi
            Ada dua cara penanggulangan gangguan perilaku dan psikologis pada penderita alzhaimer, yaitu terapi non-obat (psikoterapi) dan terapi dengan obat (farmakoterapi). Terapi non obat umumnya untuk mengatasi gejala psikologis dan perilaku yang masih tergolong ringan. Metode non obat lazimnya untuk mengatasi gejala depresi ringan, apatis dan keluyuran.
            Lingkungan harus dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan pasien, karena pasien alzhaimer pada dasarnya tidak mampu lagi melakukan adaptasi dengan lingkungan, misalnya agar ditata sehingga tidak membuat stress dan perasaan tidak terasing bagi pasien. Metode ini hanya efektif untuk fase awal gangguan alzhaimer. Terapi yang bersifat non-obat ini harus diikuti dengan pemberian obat jika gangguan psikologis dan gangguan perilaku pasien yang sudah dianggap parah. Pemberian obat tentu saja harus memperhatikan efek samping dan juga kondisi pasien secara umum. Pada umumnya gangguan psikologis dan perilaku pada pasien alzhaimerdapat diatasi dengan obat golongan psikotropik (antipsikotik, antidepresi, anticemas, dan sebagainya)
            Satu hal lagi, gangguan perilaku pada penderita alzhaimer mudah dikenali dari pengamatan terhadap perilaku pasien sehari-hari. Sedangkan gangguan psikologis (waham, halusinasi, depresi) yang menyebabkan perubahan perilaku pasien dapat diketahui melalui pemeriksaan/wawancaradengan seorang dokter ahli yang berpengalaman dalam bidang ini. Baik gangguan psikologis maupun gangguan perilaku, keduanya merupakan kesatuan yang tidak terpisahkan dalam perjalanan alzhaimer ini. Gejala psikologis dan perilaku ini sangat mengganggu dan menjadi beban/sumber stress bagi keluarga pasien.


DAFTAR PUSTAKA
Milton E. Strauss, Monisha Pasuphati & Anjan Chattereje, Concordance between Observers in Description of Personality Change in Alzhaimer Disease, American Psychological Association, Psychology and Aging, vol 8 no. 4, 475-480, 1993.
Patricia A. O’Learey, William E Halley & Penelope B. Paul, Behavioral Assesment in Alzhaimer Disease : Use of a 24-hr log, American Psychological Association, Psychology and Aging, vol 8 no. 2, 139-143, 1993
                  

Faktor Penyebab Perilaku Agresi


Oleh : Musdalifah Dachrud, MSi.

Bagi warga Jakarta, Makasar, Surabaya, Medan, Maluku, Papua dan kota-kota besar lainnya, aksi-aksi kekerasan baik individual maupun massal mungkin sudah merupakan berita harian. Saat ini beberapa televisi bahkan membuat program-program khusus yang menyiarkan berita-berita tentang aksi kekerasan. Aksi-aksi kekerasan dapat terjadi di mana saja, seperti di jalan-jalan, di sekolah, bahkan di kompleks-kompleks perumahan. Aksi  tersebut dapat berupa kekerasan verbal (mencaci maki)  maupun kekerasan fisik (memukul, meninju, dll). Pada  kalangan remaja aksi yang biasa dikenal sebagai tawuran pelajar/masal merupakan hal yang sudah terlalu sering kita saksikan, bahkan cenderung dianggap biasa. Pelaku-pelaku tindakan aksi ini bahkan sudah mulai dilakukan oleh siswa-siswa di tingkat SLTP/SMP. Hal ini sangatlah memprihatinkan bagi kita semua.  Hal yang terjadi pada saat tawuran sebenarnya adalah perilaku agresi dari seorang individu atau kelompok.
Agresi itu sendiri menurut Murray (dalam Hall & Lindzey, Psikologi kepribadian, 1993)  didefinisikan sebagai suatu cara untuk melawan dengan sangat kuat, berkelahi, melukai, menyerang, membunuh,atau menghukum orang lain. Atau secara singkatnya agresi adalah tindakan yang dimaksudkan untuk melukai orang lain atau merusak milik orang lain. Pertanyaannya kemudian adalah faktor-faktor apa saja yang dapat menjadi pemicu perilaku agresi tersebut? Mengapa kasus-kasus sepele dalam kehidupan sosial masyarakat sehari-hari dapat tiba-tiba berubah menjadi bencana besar yang berakibat hilangnya nyawa manusia? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, ada baiknya kita memahami terlebih dahulu apa saja penyebab perilaku agresi.
Amarah Marah merupakan emosi yang memiliki ciri-ciri aktifitas sistem saraf parasimpatik yang tinggi dan adanya perasaan tidak suka yang sangat kuat yang biasanya disebabkan adanya kesalahan, yang mungkin nyata-nyata salah atau mungkin juga tidak (Davidoff, Psikologi suatu pengantar 1991). Pada saat marah ada perasaan ingin menyerang, meninju, menghancurkan atau melempar sesuatu dan biasanya timbul pikiran yang kejam. Bila hal-hal tersebut disalurkan maka terjadilah perilaku agresi. Jadi tidak dapat dipungkiri bahwa pada kenyataannya agresi adalah suatu respon terhadap marah. Kekecewaan, sakit fisik, penghinaan, atau ancaman sering memancing amarah dan akhirnya memancing agresi. Ejekan, hinaan dan ancaman merupakan pancingan yang jitu terhadap amarah yang akan mengarah pada agresi. Anak-anak di kota seringkali saling mengejek pada saat bermain, begitu juga dengan remaja biasanya mereka mulai saling mengejek  dengan ringan sebagai bahan tertawaan, kemudian yang diejek ikut membalas ejekan tersebut, lama kelamaan ejekan yang dilakukan semakin panjang dan terus-menerus dengan intensitas ketegangan yang semakin tinggi bahkan seringkali disertai kata-kata kotor dan cabul. Ejekan ini semakin lama-semakin seru karena rekan-rekan yang menjadi penonton juga ikut-ikutan memanasi situasi. Pada akhirnya bila salah satu tidak dapat menahan amarahnya maka ia mulai berupaya menyerang lawannya. Dia berusaha meraih apa saja untuk melukai lawannya. Dengan demikian berarti isyarat tindak kekerasan mulai terjadi. Bahkan pada akhirnya penontonpun tidak jarang ikut-ikutan terlibat dalam perkelahian.
Ø  Faktor Biologis
Ada beberapa faktor biologis yang mempengaruhi perilaku agresi (Davidoff, 1991):
1)   Gen tampaknya berpengaruh pada pembentukan sistem neural otak yang mengatur perilaku agresi. Dari penelitian yang dilakukan terhadap binatang, mulai dari yang sulit sampai yang paling mudah dipancing amarahnya,  faktor keturunan tampaknya membuat hewan jantan yang berasal dari berbagai jenis lebih mudah marah dibandingkan betinanya.
2)   Sistem otak yang tidak terlibat dalam agresi  ternyata dapat memperkuat atau menghambat sirkuit neural yang mengendalikan agresi. Pada hewan sederhana marah dapat dihambat atau ditingkatkan dengan merangsang sistem limbik (daerah yang menimbulkan kenikmatan pada manusia) sehingga muncul hubungan timbal balik antara kenikmatan dan kekejaman. Prescott (Davidoff, 1991)  menyatakan bahwa orang yang berorientasi pada kenikmatan akan sedikit melakukan agresi sedangkan orang yang pernah mengalami kesenangan, kegembiraan atau santai cenderung untuk melakukan kekejaman dan penghancuran (agresi). Prescott yakin bahwa keinginan yang kuat untuk menghancurkan disebabkan oleh ketidakmampuan untuk menikmati sesuatu hal yang disebabkan cedera otak karena kurang rangsangan sewaktu bayi.
3)   Kimia darah. Kimia darah (khususnya hormon seks  yang sebagian ditentukan faktor keturunan) juga dapat mempengaruhi perilaku agresi. Dalam suatu eksperimen  ilmuwan menyuntikan hormon testosteron pada tikus dan  beberapa hewan lain (testosteron merupakan hormon androgen utama yang memberikan ciri kelamin jantan) maka tikus-tikus tersebut berkelahi semakin sering dan lebih kuat. Sewaktu testosteron dikurangi hewan tersebut menjadi lembut. Kenyataan menunjukkan bahwa anak banteng jantan yang sudah dikebiri (dipotong alat kelaminnya) akan menjadi jinak. Sedangkan pada wanita yang sedang mengalami masa haid, kadar hormon kewanitaan yaitu estrogen dan progresteron menurun jumlahnya akibatnya banyak wanita melaporkan bahwa perasaan mereka mudah tersinggung, gelisah, tegang dan bermusuhan. Selain itu banyak wanita yang melakukan pelanggaran hukum (melakukan tindakan agresi) pada saat berlangsungnya siklus haid ini.    

Ø  Kesenjangan Generasi

Adanya perbedaan atau jurang pemisah (Gap) antara generasi anak dengan orang tuanya dapat terlihat dalam bentuk hubungan komunikasi yang semakin minimal dan seringkali tidak nyambung. Kegagalan komunikasi orang tua dan anak diyakini sebagai salah satu penyebab  timbulnya perilaku agresi pada anak. permasalahan  generation gap ini harus diatasi dengan segera, mengingat bahwa selain agresi, masih banyak permasalahan lain yang dapat muncul seperti masalah ketergantungan narkotik, kehamilan diluar nikah, seks bebas, dll.
Ø  Lingkungan
1)   Kemiskinan
Bila seorang anak dibesarkan dalam lingkungan kemiskinan, maka perilaku agresi mereka secara alami mengalami penguatan (Byod McCandless dalam Davidoff, 1991). Hal ini dapat kita lihat dan alami dalam kehidupan sehari-hari di ibukota Jakarta, di perempatan jalan dalam antrian lampu merah (Traffic Light) anda biasa didatangi pengamen cilik yang jumlahnya lebih dari satu orang yang berdatangan silih berganti. Bila anda memberi salah satu dari mereka uang maka anda siap-siap di serbu anak yang lain untuk meminta pada anda dan resikonya anda mungkin dicaci maki bahkan ada yang berani memukul pintu mobil anda jika anda tidak memberi uang, terlebih bila mereka tahu jumlah uang yang diberikan pada temannya cukup besar. Mereka juga bahkan tidak segan-segan menyerang temannya yang telah diberi uang dan berusaha merebutnya. Hal ini sudah menjadi pemandangan yang seolah-olah biasa saja. Bila terjadi perkelahian dipemukiman kumuh, misalnya ada pemabuk yang memukuli istrinya karena tidak memberi uang untuk beli minuman, maka pada saat itu anak-anak dengan mudah dapat melihat model agresi secara langsung. Model agresi ini seringkali diadopsi anak-anak sebagai model pertahanan diri dalam mempertahankan hidup. Dalam situasi-situasi yang dirasakan sangat kritis bagi pertahanan hidupnya dan ditambah dengan nalar yang belum  berkembang optimal, anak-anak seringkali dengan gampang bertindak agresi misalnya dengan cara memukul, berteriak, dan mendorong orang lain sehingga terjatuh dan tersingkir dalam kompetisi sementara ia akan berhasil mencapai tujuannya. Hal yang sangat   menyedihkan adalah dengan berlarut-larut terjadinya krisis ekonomi menyebabkan pembengkakan kemiskinan yang semakin tidak terkendali. Hal ini berarti potensi meledaknya tingkat agresi semakin besar dan kesulitan mengatasinya lebih kompleks.
2)   Anonimitas
Kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Makasar, Medan, dan kota besar lainnya menyajikan berbagai suara, cahaya dan bermacam informasi yang besarnya sangat luar biasa. Orang secara otomatis cenderung berusaha untuk beradaptasi dengan melakukan penyesuaian diri terhadap rangsangan yang berlebihan tersebut. Terlalu banyak  rangsangan indra dan kognitif membuat dunia menjadi sangat impersonal, artinya antara satu orang dengan orang lain tidak lagi saling mengenal atau mengetahui secara baik.  Lebih jauh lagi, setiap individu  cenderung menjadi anonim (tidak mempunyai identitas diri). Bila seseorang merasa anonim ia cenderung berperilaku semaunya sendiri, karena ia merasa tidak lagi terikat dengan norma masyarakat dan kurang bersimpati pada orang lain.
3)   Suhu udara yang panas
Bila diperhatikan dengan seksama tawuran yang terjadi di Jakarta seringkali terjadi pada siang hari di terik  panas matahari, tapi bila musim hujan relatif tidak ada peristiwa tersebut. Begitu juga dengan aksi-aksi demonstrasi yang berujung pada bentrokan dengan petugas keamanan yang biasa terjadi pada cuaca yang terik dan panas tapi bila hari diguyur hujan aksi tersebut juga menjadi sepi. Hal ini sesuai dengan pandangan bahwa suhu suatu lingkungan yang tinggi memiliki dampak terhadap tingkah laku sosial berupa peningkatan agresivitas. Pada tahun 1968 US Riot Comision pernah melaporkan bahwa dalam  musim panas, rangkaian kerusuhan dan agresivitas massa  lebih banyak terjadi di Amerika Serikat dibandingkan dengan musim-musim lainnya (Fisher et al, dalam Sarlito,  Psikologi Lingkungan,1992)

Ø  Peran Belajar Model Kekerasan

Tidak dapat dipungkiri bahwa pada saat ini anak-anak dan remaja banyak belajar menyaksikan adegan kekerasan melalui Televisi dan juga "games" atau pun mainan yang bertema kekerasan. Acara-acara yang menampilan adegan kekerasan hampir setiap saat dapat ditemui dalam tontonan yang disajikan di televisi mulai dari film kartun, sinetron, sampai film laga. Selain itu ada pula acara-acara TV yang menyajikan acara khusus perkelahian yang sangat populer dikalangan remaja seperti Smack Down, UFC (Ultimate Fighting Championship) atau sejenisnya. Walaupun pembawa acara berulang kali mengingatkan penonton untuk tidak mencontoh apa yang mereka saksikan namun diyakini bahwa tontonan tersebut akan berpengaruh terhadap perkembangan jiwa penontonnya. Pendapat ini sesuai dengan pandangan yang diutarakan Davidoff (1991) yang mengatakan bahwa menyaksikan perkelahian dan pembunuhan meskipun sedikit pasti akan menimbulkan rangsangan dan memungkinkan untuk meniru model kekerasan tersebut. Model pahlawan di film-film seringkali mendapat imbalan setelah mereka melakukan tindak kekerasan. Hal ini sudah barang tentu membuat penonton akan semakin mendapat penguatan bahwa hal tersebut merupakan hal yang  menyenangka dan dapat dijadikan suatu sistem nilai bagi dirinya. Dengan menyaksikan adegan kekerasan tersebut  terjadi proses belajar peran model kekerasan dan hal ini menjadi sangat efektif untuk terciptanya perilaku agresi.
Dalam suatu penelitian Aletha Stein (Davidoff, 1991) dikemukakan bahwa anak-anak yang memiliki kadar agresi diatas normal akan lebih cenderung berlaku agresif, mereka akan bertindak keras terhadap sesama anak lain setelah menyaksikan adegan kekerasan dan meningkatkan agresi dalam kehidupan sehari-hari, dan ada kemungkinan  efek ini sifatnya menetap. Selain model dari yang di saksikan di televisi belajar model juga dapat berlangsung secara langsung dalam kehidupan sehari-hari. Bila seorang yang sering menyaksikan tawuran di jalan, mereka secara langsung menyaksikan kebanggaan orang yang melakukan agresi secara langsung. Atau dalam kehidupan bila terbiasa di lingkungan rumah menyaksikan peristiwa perkelahian antar orang tua dilingkungan rumah, ayah dan ibu yang sering cekcok dan peristiwa sejenisnya , semua itu dapat memperkuat perilaku agresi yang ternyata sangat efektif bagi dirinya.
Model kekerasan juga seringkali ditampilkan dalam bentuk mainan yang dijual di toko-toko. Seringkali orang tua tidak terlalu perduli mainan apa yang di minta anak, yang penting anaknya senang dan tidak nangis lagi. Sebenarnya permainan-permainan sangat efektif dalam memperkuat perilaku agresif anak dimasa mendatang. Permainan-permainan yang mengandung unsur kekerasan yang dapat kita temui di pasaran misalnya pistol-pistolan, pedang, model mainan perang-perangan, bahkan ada mainan yang dengan model Goilotine (alat penggal kepala sebagai hukuman mati di Perancis jaman dulu). Mainan kekerasan ini bisa mempengaruhi anak karena memberikan informasi bahwa kekerasan (agresi) adalah sesuatu yang menyenangkan. Permainan lain yang sama efektifnya adalah  permainan dalam video game atau play station yang juga  banyak menyajikan bentuk-bentuk kekerasan sebagai suatu permainan yang mengasikkan.

Ø  Frustrasi

Frustrasi terjadi bila seseorang terhalang oleh sesuatu hal dalam mencapai suatu tujuan, kebutuhan, keinginan, pengharapan atau tindakan tertentu. Agresi merupakan salah satu cara berespon terhadap frustrasi. Remaja miskin yang nakal adalah akibat dari frustrasi yang berhubungan dengan banyaknya waktu menganggur, keuangan yang pas-pasan dan adanya kebutuhan yang harus segera terpenuhi tetapi sulit sekali tercapai. Akibatnya mereka menjadi mudah marah dan berperilaku agresi. Frustrasi yang berujung pada perilaku agresi sangat banyak contohnya, beberapa waktu yang lalu di sebuah sekolah di Jerman terjadi penembakan guru-guru oleh seorang siswa yang baru di skorsing akibat membuat surat ijin palsu. Hal ini menunjukan anak tersebut merasa frustrasi dan penyaluran agresi dilakukan dengan cara menembaki guru-gurunya. Begitu pula tawuran pelajar yang terjadi di Jakarta ada kemungkinan faktor frustrasi ini memberi sumbangan yang  cukup berarti pada terjadinya peristiwa tersebut. Sebagai contoh banyaknya anak-anak sekolah yang bosan dengan waktu luang yang sangat banyak dengan cara nongkrong-nongkrong di pinggir jalan dan ditambah lagi saling ejek mengejek yang bermuara pada terjadinya perkelahian. Banyak juga perkelahian disulut oleh karena frustrasi yang diakibatkan hampir setiap saat dipalak (diminta uangnya) oleh anak sekolah lain padahal sebenarnya uang yang di palak adalah untuk kebutuhan dirinya.

Ø  Proses Pendisiplinan yang Keliru

Pendidikan disiplin yang otoriter dengan penerapan yang keras terutama dilakukan dengan memberikan hukuman fisik, dapat menimbulkan berbagai pengaruh yang buruk bagi remaja (Sukadji, Keluarga dan Keberhasilan Pendidikan, 1988). Pendidikan disiplin seperti itu akan membuat remaja menjadi seorang penakut,  tidak ramah dengan orang lain,  dan membeci orang yang memberi hukuman, kehilangan spontanitas serta inisiatif dan pada akhirnya melampiaskan kemarahannya dalam bentuk agresi kepada orang lain. Hubungan dengan lingkungan sosial berorientasi kepada kekuasaan dan ketakutan. Siapa yang lebih berkuasa dapat berbuat sekehendak hatinya. Sedangkan yang tidak berkuasa menjadi tunduk. Pola pendisiplinan tersebut dapat pula menimbulkan pemberontakan, terutama bila larangan-larangan yang bersangsi hukuman tidak diimbangi dengan alternatif (cara) lain yang dapat memenuhi kebutuhan yang mendasar (contoh: dilarang untuk keluar main, tetapi di dalam rumah tidak diperhatikan oleh kedua orang tuanya karena kesibukan mereka). Dengan mengetahui faktor penyebab seperti yang dipaparkan  diatas diharapkan dapat diambil manfaat bagi para orangtua, pendidik dan terutama para remaja sendiri dalam berperilaku dan mendidik generasi berikutnya agar lebih baik sehingga aksi-aksi kekerasan baik dalam bentuk agresi verbal maupun agresi fisik dapat diminimalkan atau bahkan dihilangkan. Mungkin masih banyak faktor penyebab lainnya yang belum dibahas disini, namun setidaknya faktor-faktor diatas patut diwaspadai dan diberikan perhatian demi menciptakan rasa  aman dalam masyarakat kita. Bukankah Damai Itu  Indah.....(iffah D@ch)

Kamis, 27 Oktober 2011

Motivasi Berprestasi Siswa


I.     Pendahuluan
Dunia sekolah formal pada hakikatnya diciptakan untuk memfasilitasi proses pendampingan siswa agar mereka lebih dimungkinkan tumbuh dan berkembang sesuai dengan bakat dan potensinya. Tujuannya adalah memanusiakan siswa itu sendiri agar berani menjadi dirinya sendiri, unik tak terbandingkan dengan yang lain.   Juga lebih jauh diharapkan mendewasakan mereka dan menjadikan mereka sebagai manusia-manusia mandiri yang dapat menjalin hubungan interdependen dalam masyarakat luas.
Melalui proses pendewasaan dan pemandirian yang diperoleh melalui belajar, siswa  pada gilirannya diharapkan tidak menjadi beban sosial-ekonomi masyarakat dan pemerintah, tetapi justru menjadi kontributor dan aktor yang mampu menyatakan dirinya dalam karya nyata yang berguna bagi masyarakat.    Sehubungan dengan perubahan yang terus terjadi, nantinya diharapkan setelah lulus sekolah mereka tidak menjadi korban perubahan (victim of change) tetapi sebagai agen perubahan (agent of change) yang kreatif dan inovatif sesuai dengan bidangnya masing-masing.
Dunia sekolah (termasuk universitas) hampir selalu ditujukan kepada kaum muda yang dipersiapkan untuk menjadi generasi pengganti yang mampu mengambil alih estafet kepemimpinan dalam keluarga, masyarakat, perusahaan, bangsa dan negara. Karena anak-anak dan remaja berbeda dengan orang dewasa, tentunya proses pembelajaran bagi orang dewasa akan berbeda dengan dunia sekolahan pada umumnya. Perbedaan ini tidak saja mencakup materi pelajaran, tetapi juga metodologi pengajaran dan pelatihan yang diberikan.
Tentu saja, dalam proses belajar-mengajar, hasil belajar yang maksimal tidak hanya ditentukan oleh siswa melalui motivasi belajar yang tinggi tetapi juga ditentukan oleh sarana (media pengajaran) dan kualitas gurunya. Anak-anak masa kini berbeda dalam satu hal dibandingkan puluhan tahun yang lalu ketika informasi tentang dunia relatif sulit dijangkau, anak-anak masa kini adalah ensikopedi berjalan. Oleh karena itu, apabila sekolah-sekolah membatasi fungsinya dalam menyebarluaskan ilmu dan informasi, maka didapatkan kesan membosankan dan tidak relevan. Televisi, komputer dan internet sendiri baik disenangi atau tidak, telah membuat konsep sekolah sebagai satu-satunya pemberi informasi menjadi usang. Karena keterbatasan biaya, sarana-sarana penunjang pendidikan semacam ini belum banyak digunakan di sekolah.
Agar lebih spesifik, tulisan ini dibatasi pada masalah motivasi dalam belajar.   Perlu dipertanyakan, sejauh mana motivasi belajar siswa mempengaruhi proses belajar yang terjadi di sekolah. Portal Pendidikan Utusan Malaysia dengan tegas mengatakan bahwa selain kemahiran menyampaikan ilmu dengan baik, guru juga perlu bijak memberikan motivasi kepada siswa karena ia adalah faktor utama untuk meningkatkan proses pembelajaran siswanya. Dalam soal belajar, motivasi itu sangat penting.  Motivasi adalah syarat mutlak untuk belajar. Di sekolah seringkali ditemui anak yang malas, tidak menyenangkan, suka membolos, dan sebagainya. Dalam hal ini, salah satu penyebabnya adalah guru tidak berhasil memberikan motivasi yang tepat untuk mendorong agar ia mau bekerja dengan segenap tenaga dan pikirannya.  

II. Pengertian Motivasi dan Belajar

A.    Pengertian Belajar

Menurut Lyle E. Bourne, Jr., Bruce R. Ekstrand : Belajar adalah perubahan tingkah laku yang relatif tetap yang diakibatkan oleh pengalaman dan latihan. Clifford T. Morgan berpendapat : Belajar adalah perubahan tingkah laku yang relatif tetap yang merupakan hasil pengalaman yang lalu. Sedangkan Guilford berpandangan : Belajar adalah perubahan tingkah laku yang dihasilakan dari rangsangan.[1]
Dari beberapa pengertian belajar di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa belajar merupakan perubahan tingkah laku yang relatif permanen yang terjadi karena pengalaman dan latihan. Dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan suatu kegiatan yang disengaja, kegiatan tersebut menghasilkan perubahan, perubahan yang terjadi dapat berbentuk perubahan dalam ketrampilan jasmani, kemampuan berfikir, sikap terhadap nilai-nilai tertentu, dll, perubahan yang terjadi relatif bersifat konstan.
B.     Pengertian Motivasi
Situasi 1. Berjam-jam tanpa mengenal lelah  para siswa pemain sepak bola itu berlatih untuk menghadapi  babak kualifikasi pertandingan sepak bola antar siswa se- Kabupaten.
Situasi 2. Seorang siswa atau mahasiswa belajar dengan tekun sampai larut malam. Ketekunan dalam belajar membuat siswa atau mahasiswa tersebut tidak memperdulikan rasa lelah dan rasa kantuknya.
Uraian di atas, menggambarkan bahwa kegiatan-kegiatan tersebut dilatarbelakangi oleh sesuatu atau motif tertentu. Mengapa mereka belajar? Atau dengan kata lain; apakah yang mendorong mereka belajar? Adanya motivasi yang baik dalam belajar akan menunjukkan hasil yang baik. Artinya, dengan adanya usaha yang tekun terutama didasari oleh motivasinya, maka seseorang yang belajar akan dapat menghasilkan prestasi yang baik.  Intensitas motivasi seorang siswa akan sangat menentukan tingkat pencapaian pretasi belajarnya. 
Dalam kenyataannya, motif setiap orang dalam belajar berbeda satu dengan yang lainnya.  Ada siswa yang rajin belajar karena memang mempunyai motif ingin menuntut ilmu, ada juga siswa yang belajar karena mempunyai motif sekedar mendapat nilai yang bagus atau lulus ujian.  Umumnya motif belajar seorang siswa lebih dari satu atau bersifat majemuk. Seorang siswa yang belajar dengan rajin biasanya bukan hanya karena motif ingin menuntut ilmu, tetapi juga karena motif ingin mendapat nilai yang bagus, ingin lulus ujian, dan dapat pula karena adanya motif-motif yang lain.
Pengertian motivasi adalah kebutuhan atau keinginan secara sadar atau tidak yang beroperasi dalam kehendak seseorang dan menghasilkan sesuatu perbuatan. Dalam pengertian umum, motivasi dikatakan sebagai kebutuhan yang mendorong perbuatan ke arah suatu tujuan tertentu.  Jadi motivasi belajar adalah sesuatu yang menimbulkan semangat atau dorongan belajar. Menurut Prof. P.F. Drucker, motivasi berperan sebagai pendorong kemauan dan keinginan seseorang.  Untuk belajar, sangat diperlukan adanya motivasi. “Motivasion is an essential condition of learning”. Hasil belajar akan maksimal kalau ada motivasi pada diri seseorang. Sedangkan. Gates dan kawan-kawan menyebutkan motivasi adalah suatu kondisi fisiologis dan psikologis yang terdapat dalam diri seseorang yang mengatur tindakannya dengan cara tertentu.[2]
Dari definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa motivasi adalah suatu kondisi fisiologis dan psikologis yang terdapat dalam diri seseorang untuk melakukan aktivitas tertentu guna mencapai suatu tujuan (kebutuhan). 
Pada uraianselanjutnya, kita menggunakan istilah motif dan motivasi secara bergantian. Pengertian motif dan motivasi sukar dibedakan secara tegas. Lebih jauh Atkinson dalam bukunya  An Introduction to Motivation  menyampaikan  kesulitan dalam mendefinisikan arti motivasi adalah karena istilah ini tidak memiliki arti yang tetap di dalam psikologi kontemporer.
III. Teori Motivasi
Teori motivasi yang sekarang banyak dianut orang adalah teori kebutuhan. Teori ini beranggapan bahwa tindakan yang dilakukan oleh manusia pada dasarnya adalah untuk memenuhi kebutuhannya, baik kebutuhan psikis maupun kebutuhan fisik.  Sehubungan dengan kebutuhan hidup manusia yang mendasari timbulnya motivasi, Maslow mengungkapkan kebutuhan dasar hidup manusia dibagi menjadi 5 tingkatan:[3]
1.      Kebutuhan fisiologis.  Kebutuhan dasar yang bersifat primer dan vital yang harus dipenuhi seseorang dengan segera seperti makan, minum, pakain, dan tempat tinggal.
2.      Kebutuhan keamanan.  Kebutuhan memperoleh keselamatan, keamanan, jaminan atau perlindungan dari ancaman yang membahayakan hidup dan kehidupan dengan segala aspeknya.
3.      Kebutuhan Sosial.  Kebutuhan untuk menyukai dan disukai, mencintai dan dicintai, bergaul, berkelompok, bermasyaraakat, berbangsa dan bernegara.
4.      Kebutuhan akan harga diri.  Kebutuhan memperoleh kehormatan, penghormatan, pujian, penghargaan dan pengakuan.
5.      Kebutuhan akan aktualisasi diri.  Kebutuhan memperoleh kebanggaan, kekaguman dan kemasyhuran sebagai pribadi yang mampu dan berhasil mewujudkan potensi bakatnya dengan hasil prestasi yang luar biasa.
Menurut Maslow, kepuasan manusia sifatnya sementara, apabila suatu kebutuhan telah terpenuhi, orang tidak lagi berkeinginan memenuhi kebutuhan tersebut, tetapi berusaha memenuhi kebutuhan lain yang lebih tinggi tingkatannya. Jadi, untuk berprestasi dengan baik, seseorang harus memenuhi lebih dulu kebutuhan dasar fisiologis dan keamanan. Tidak mungkin seseorang akan berprestasi dengan baik apabila yang bersangkutan lapar dan terganggu keamanannya.
Banyak lagi teori yang berhubungan dengan pencapaian kebutuhan.   Teori lain yang berhubungan dengan pencapaian kebutuhan disampaikan oleh McClelland[4] bahwa kebutuhan hidup manusia ada 3 yaitu: 1) Kebutuhan untuk berprestasi, 2) Kebutuhan untuk berafiliasi, dan 3) Kebutuhan untuk memperoleh makanan. Karena yang kita bicarakan adalah faktor-faktor yang mempengaruhi belajar, maka konteks motivasi yang sesuai disini adalah motivasi berprestasi.  Dengan demikian  definisi motivasi adalah kondisi fisiologis dan psikologis (kebutuhan berprestasi) yang terdapat dalam diri seseorang (siswa) untuk melakukan aktivitas tertentu guna mencapai suatu tujuan (berprestasi setinggi mungkin).
      McClelland menyampaikan bahwa motivasi berprestasi merupakan suatu motivasi yang berhubungan dengan pencapaian standar kepandaian atau standar keahlian.  Sementara Heckhausen mengemukakan bahwa motivasi berprestasi merupakan suatu dorongan yang ada pada diri siswa sehingga yang bersangkutan selalu mencoba  berjuang meningkatkan kemampuannya setinggi mungkin sesuai dengan potensi dan bakatnya dalam semua aktivitas dengan menggunakan standar keunggulan.   
      Harapan seseorang terbentuk melalui belajar dalam lingkungannya. Suatu harapan selalu mengandung standard of excellence (standar keunggulan). Oleh karena itu, standar keunggulan merupakan kerangka acuan bagi seorang siswa ketika dia belajar mengerjakan suatu tugas, memecahkan masalah dan mempelajari ketrampilan lainnya. Standar keunggulan dibagi menjadi tiga, yaitu : 1) Standar keunggulan tugas.  Berhubungan dengan pencapaian tugas sebaik-baiknya. 2) Standar keunggulan diri. Berhubungan dengan prestasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan prestasinya selama ini. 3) Standar keungulan siswa lain. Berhubungan dengan pencapaian prestasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan prestasi yang dicapai oleh siswa lain. Berhubungan dengan keinginan siswa menajdi juara dalam setiap kompetisi.
IV.  Komponen  Motivasi
Motivasi terdiri dari 3 komponen yang saling berhubungan satu sama lain, yaitu:
1. Personal goal, yaitu adanya cita-cita pada diri seseorang.
2. Personal Agency belief, yaitu adanya keyakinan bahwa dirinya mampu mencapai tujuan tersebut.
3. Emosi, yaitu semangat yang memunculkan perilaku untuk mencapai tujuan.
V.  Manfaat Motivasi dalam Belajar
Secara umum dapat disimpulkan bahwa fungsi motivasi adalah untuk menggerakkan atau menggugah seseorang agar timbul keinginan dan kemauannya untuk melakukan sesuatu sehingga bisa memperoleh hasil atau mencapai tujuan tertentu. Bagi para guru, fungsi-fungsi motivasi adalah untuk menggerakkan atau memacu para siswanya agar timbul keinginan dan kemauannya untuk meningkatkan perstasi belajarnya. Ada tiga manfaat motivasi dalam belajar, yaitu : 1) Mendorong manusia untuk berbuat. Motivasi berfungsi sebagai motor penggerak yang memberikan energi/kekuatan kepada siswa untuk rajin belajar dan mengatasi kesulitan belajar. 2) Menentukan arah perbuatan, yaitu ke arah tujuan atau cita-cita yang ingin dicapai.   Mengarahkan kegiatan belajar siswa kepada suatu tujuan tertentu yang berkaitan dengan masa depan dan cita-cita. 3) Membantu siswa untuk mencari suatu metode belajar yang tepat dalam mencapai tujuan belajar yang diinginkan.
VI.  Motivasi Berprestasi  dan  Prestasi Belajar
Motivasi berprestasi merupakan salah satu faktor yang ikut menentukan keberhasilan dalam belajar.  Besar kecilnya pengaruh tersebut tergantung pada intensitasnya.   Siswa yang motivasi berprestasinya tinggi hanya akan mencapai prestasi akademis yang tinggi apabila : rasa takutnya akan kegagalan lebih rendah daripada keinginannya untuk berhasil serta tugas-tugas di dalam kelas cukup memberi tantangan, tidak terlalu mudah tapi juga tidak terlalu sukar, sehingga memberi kesempatan untuk berhasil.    
VII.  Energi  untuk  Motivasi
            Seperti yang telah disinggung sebelumnya, dalam perjalanan menuju tujuan dan masa depan yang diinginkan, kita membutuhkan dorongan. Tanpa dorongan, tidak akan aca gerakan.  Untuk membuat dorongan, dimembutuhkan daya energi: positif dan negatif.
a.       Positif, energi positif diperoleh bila seseorang dapat melihat sesuatu yang menggembirakan dan memuaskan dalam pikirannya. Selama bayangan positif dapat dipertahankan, energi positif dapat bertahan lebih lama dan diteruskan. Energi ini membuat seseorang memberikan komitmen yang tinggi dalam usaha mencapai apa yang diperlukan.
b.      Negatif, energi negatif diperoleh seseorang bila berada dalam keadaan ketakutan, khawatir, kesakitan, kepahitan baik secara fisik maupun secara psikologis.  Biasanya reaksi yang muncul dikenal dengan apa yang disebut flight atau fight.  Energi negatif ini tetap diperoleh selama kita merasakan “bahaya” maupun “kesakitan”.  Energi ini sering digunakan oleh perusahaan guna mengubah seseorang. Karyawan diberitahu jika mereka tidak berubah atau tidak mau menerima cara baru dalam mengerjakan sesuatu, mereka akan menerima sangsi.  Di sekolah, bisa diterapkan bagi siswa yang terlambat masuk sekolah, mereka juga akan menerima sangsi. 
VIII.  Sumber-sumber Motivasi
Motivasi seseorang dapat bersumber dari :  1)  Dalam diri sendiri yang dikenal sebagai motivasi intrinsik, dan 2) Luar diri seseorang yang dikenal sebagai motivasi ekstrinsik.

1)      Intrinsik. Motivasi Intrinsik apabila yang mendorong untuk bertindak adalah nilai-nilai yang sudah ada dalam diri seseorang. Motivasi ini tidak akan habis karena rangsangan dapat ditimbulkan oleh diri sendiri setiap waktu sesuai dengan keadaan.   Contoh:

a)      Seseorang yang senang membaca, tidak perlu disuruh  atau didorong orang lain, ia rajin mencari buku-buku di perpustakaan atau di toko buku untuk dibacanya.
b)      Abdullah tekun mempelajari psikologi karena ia benar-benar tertarik dan ingin sekali menguasai pelajaran ini.      
2)      Ekstrinsik. Motivasi ekstrinsik apabila yang mendorong untuk bertindak adalah karena adanya rangsangan dari luar dirinya.  Contoh:
a)      Seorang anak belajar bukan didorong oleh keinginan untuk benar-benar mengetahui apa yang dipelajarinya, tetapi supaya lulus ujian atau supaya orang tuanya senang, atau takut dimarahi oleh ayah/gurunya.
b)      Seseorang belajar karena besok paginya akan ujian dengan harapan mendapat nilai baik sehingga akan dipuji oleh pacar/temannya.  Jadi disini yang penting bukan karena belajar ingin mengetahui sesuatu, tetapi ingin mendapatkan mendapat pujian/hadiah.   Bukan berarti motivasi ekstrinsik tidak penting.  Kemungkinan besar keadaan siswa itu dinamis, berubah-ubah dan mungkin komponen-komponen lain dalam proses belajar-mengajar ada yang kurang menarik siswa, sehingga diperlukan motivasi ektrinsik.
Dalam kehidupan sehari-hari, perbuatan-perbuatan yang kita lakukan banyak didorong oleh motivasi dari luar, tetapi banyak juga yang didorong oleh motivasi dalam dirinya, atau oleh keduanya sekaligus. Namun demikian, yang paling baik terutama dalam belajar adalah yang berasal dari diri sendiri/intrinsik. Dengan motivasi  intrinsik, siswa akan aktif sendiri, belajar sendiri tanpa paksaan orang lain. Dalam Educational Psychology Review, Maret 2004 mengenai Pengaruh Perspektif Waktu pada Motivasi Siswa dinyatakan bahwa penelitian dalam perspektif ini telah memberikan para guru suatu pesan bahwa “para pendidik harus mendukung dan mengembangkan keinginantahu alami siswa atau motivasi intrinsik untuk belajar.” Oleh karena itu, bagi para guru dan yang bergerak di bidang administrasi pendidikan, hal ini berarti memfasilitasi siswa mencintai belajar.
Motif ekstrinsik bisa berubah menjadi motif intrinsik yang disebut sebagai “transformasi motif”. Motivasi ekstrinsik bisa berubah menjadi intrinsik pada saat siswa menyadari pentingnya belajar dan belajar sungguh-sungguh tanpa disuruh orang lain.   Contoh:
a)      Seorang siswa belajar di LPTK (Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan) karena mengikuti orang tuanya yang menginginkan anaknya menjadi guru.   Awalnya, motifnya adalah ekstrinsik, menyenangkan orang tuanya.  Setelah belajar beberapa lama di LPTK, ia sangat menyenangi pelajaran-pelajaran yang diberikan dan sangat senang belajar untuk jadi guru. Motif siswa tersebut telah berubah dari ekstrinsik ke intrinsik.
b)      Seorang siswa kelas 1 SMP belum mengetahui tujuan belajar di SMP. Yang dilakukan hanya mengikuti belajar di SMP seperti yang dilakukan oleh teman-temannya yang lain. Siswa tersebut baru benar-benar mengetahui kegunaaan belajar di SMP bagi dirinya karena adanya penjelasan dari wali kelasnya. Akhirnya berkat semangat belajarnya hasil belajarnya sangat baik dan lulus SMP dengan NEM yang cukup memuaskan.  Ia sangat menyadari ada korelasi antara pentingnya belajar dengan hasil yang ingin dicapai. Di SMA semangatnya bertambah karena ia punya cita-cita ingin masuk AKABRI. Lulus SMA jurusan IPA hasilnya sangat memuaskan karena ketekunan belajarnya dan akhirnya ia diterima di AKABRI sesuai cita-citanya. 
Cara menimbulkan motivasi instrinsik antara lain bisa dilakukan sebagai berikut: memahami manfaat-manfaat yang bisa diperoleh dari setiap pelajaran atau kuliah, memilih bidang studi yang paling disenangi dan paling sesuai dengan minat, memilih bidang studi yang paling menunjang masa depan.
            Selain itu, motivasi belajar dapat juga dibangkitkan dengan menciptakan motif-motif ekstrinsik. Hal ini penting karena motivasi belajar para siswa akan semakin kuat apabila mereka juga mempunyai motif ekstrinsik. Cara membangkitkan motif-motif ekstrinsik ini dapat dilakukan dengan memiliki berbagai keinginan untuk membangkitkan motivasi belajar, antara lain: 1) keinginan mendapat nilai ujian yang baik., 2) keinginan naik kelas atau lulus ujian, 3) keinginan menjaga harga diri atau gengsi, misalnya, ingin dianggap sebagai orang pandai, 4) keinginan menang bersaing dengan orang lain, 5) keinginan menjadi juara kelas, juara umum atau siswa teladan, 6) keinginan dapat memenuhi persyaratan dalam memasuki pendidikan lanjutan, 7) keinginan dikagumi sebagai siswa yang berprestasi, 8) keinginan melaksanakan anjuran atau dorongan dari orang lain seperti orang tua, kakak, guru, teman akrab atau orang lain yang disegani.
Cara membangkitkan motivasi belajar yang telah disampaikan di atas perlu diterapkan oleh siswa dan perlu juga dikembangkan lebih jauh agar motivasi siswa tersebut semakin lama semakin kuat dan stabil. Apabila motivasi belajar siswa lebih dominan tergantung pada faktor luar, seperti dorongan dari guru, orang tua, dosen atau pacar, biasanya motivasi belajar siswa cenderung tidak stabil dan mudah menjadi lemah. 
IX.  Kondisi Eksternal dan Internal Siswa Belajar
            Berikut ini contoh yang menjelaskan kondisi intern dan ekstern : “Pak Jono adalah guru SMP dan menjadi wali kelas 3 sebuah SMP di kota Bandung. Ia memiliki catatan tentang perilaku belajar siswa SMP. Catatan ini merupakan hasil pengamatan, wawancara dengan siswa dan orang tua, dan kutipan hasil belajar dari guru lain. Dari catatan ini, pak Jono membuat kesimpulan sementara sebagai berikut:
1.      Siswa yang tampak segan belajar, karena tidak mengetahui kegunaan mata pelajaran sekolah. Akibatnya, hasil belajar siswa tersebut tergolong rendah. Setelah guru memberi informasi tentang kegunaan mata pelajaran di kemudian hari, siswa tersebut kemudian berusaha mengubah perilaku belajarnya. Siswa tampak lebih rajin, memusatkan perhatian pada pelajaran dan pada akhir semester hasil belajarnya tergolong baik.
2.      Kelompok ke dua, siswa yang tampak segan belajar, karena urusan pergaulan dengan teman sekolahnya dan urusan dengan keluarganya. Hasil belajar siswa menjadi menurun menjadi sedang. Setelah guru menghubungi teman sekolah dan keluarga siswa tersebut, siswa tersebut mengubah perilaku belajarnya. Siswa tersebut tampak belajar dengan penuh semangat.
3.      Siswa yang memiliki semangat belajar tinggi dan rajin. Padahal siswa tersebut juga mengalami keadaan yang mengganggu konsentrasi belajar. Siswa ini mampu mengatasi gangguan dan hambatan belajarnya. Apa yang kemudian dilakukan? Ia menggunakan kesempatan belajar dengan baik, seperti belajar di perpustakaan dan belajar dari sumber lain. Hasil belajarnya sangat baik karena bersemangat belajar tinggi
Dari catatan yang dimiliki guru tersebut, tampak bahwa guru perlu memperhatikan kondisi eksternal  dan kondisi internal siswa yang belajar. Ke-3 peristiwa di atas menunjukkan bahwa  peranan siswa dan guru dalam kegiatan belajar meliputi :
1. Peristiwa pertama, siswa segan belajar karena tidak mengetahui kegunaan mata pelajaran di sekolah. Siswa bermotivasi rendah karena kurang mendapatkan informasi.
2. Peristiwa ke dua, motivasi belajar siswa menurun karena gangguan eksternal belajar.   Pada kedua peristiwa ini, motivasi siswa menjadi lebih baik setelah guru mengubah kondisi eksternal siswa.
3. Peristiwa ketiga, siswa mempunyai kondisi belajar tinggi. Ini dapat dilihat walaupun guru tidak membantu siswa, tetapi yang bersangkutan bisa mengatasi gangguan dan hambatan belajarnya.
Penjelasan di atas menunjukkan bahwa membangkitkan motivasi dalam belajar ditentukan oleh  banyak faktor internal dan ekternal yang mempengaruhinya. Secara  singkat dapat mengatakan bahwa semua faktor di atas mempengaruhi proses motivasi belajar siswa.   
Pada peristiwa ketiga, motivasi siswa termasuk tinggi, pertanyaan yang ingin diketahui adalah: (a) kekuatan apa yang menjadi penggerak belajar siswa tersebut? (b) berapa lama kekuatan tersebut berpengaruh dalam kegiatan belajar? (c) dapatkah kekuatan tersebut terus dipelihara? Terdapat ahli psikologi pendidikan yang menyebut kekuatan mentallah yang mendorong terjadinya belajar sebagai motivasi belajar. 
X.  Bentuk-bentuk Motivasi di Sekolah
Dalam kegiatan belajar-mengajar, peranan motivasi baik intrinsik maupun ekstrinsik sangat diperlukan. Motivasi dapat mengembangkan aktivitas dan inisiatif, dapat mengarahkan dan memelihara ketekunan dalam melakukan kegiatan belajar. Tepatnya, jika siswa mendapatkan motivasi yang tepat, maka lepaslah tenaga yang luar biasa, sehingga tercapai hasil-hasil yang kadang tidak terduga sebelumnya. Jadi, banyak bakat anak tidak dapat berkembang karena tidak diperolehnya motivasi.
 Portal Pendidikan Utusan Malaysia mengungkapkan bahwa melahirkan siswa yang berhasil bukan semata-mata tergantung pada kemahiran guru menyampaikan ilmu, sebaliknya bagaimana seorang guru dengan bijaksana memotivasi siswanya ke arah keberhasilan. Menurut para pakar pendidikan, faktor motivasi seharusnya diberikan sebagai tumpuan pertama sebelum guru memulai proses pengajarannya. Artinya, pelajar yang tidak termotivasi untuk belajar tidak mampu menerima ilmu yang disampaikan dengan baik, justru menjadikan proses pengajaran dan pembelajaran menjadi sia-sia.
 Untuk menumbuhkan motivasi dalam kegiatan belajar di sekolah, ada beberapa cara yang dapat dilakukan :
a.       Memberi angka. Angka sebagai simbol dari nilai kegiatan belajarnya. Banyak siswa belajar terutama untuk mendapatkan nilai yang baik. Sehingga yang dikejar adalah nilai ulangan atau nilai-nilai pada raport angkanya baik-baik. Angka yang baik bagi para siswa merupakan masukan dan motivasi yang sangat kuat untuk terus belajar.  Namun demikian, angka yang baik belum merupakan hasil belajar yang sejati, yang harus dilakukan guru bagaimana cara memberikan angka-angka dikaitkan dengan values yang terkandung dalam setiap pengetahuan yang diajarkan, sehingga tidak kognitif saja tetapi juga ketrampilan dan afeksinya.
b.      Hadiah.. Hadiah dapat juga dikatakan sebagai motivasi walaupun tidak selalu demikian. Contoh: Hadiah yang diberikan untuk gambar yang terbaik mungkin tidak akan menarik bagi seorang siswa yang tidak memiliki bakat menggambar.
c.        Saingan/kompetisi. Saingan/kompetisi bisa dugunakan sebagai alat motivasi mendorong belajar siswa. Persaingan yang sehat, baik individu maupun kelompok, dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Faktanya unsur persaingan ini banyak digunakan dalam dunia industri atau perdagangan untuk meningkatkan prestasi.  Cara ini juga sangat baik digunakan guna meningkatkan kegiatan belajar siswa untuk menjadi dirinya yang terbaik.
d.      Ego-involvement. Menumbuhkan kesadaran agar merasakan pentingnya tugas dan menerimanya sebagai tantangan sehingga mau bekerja keras mempertahankan harga dirinya. Ini merupakan salah satu bentuk motivasi yang cukup penting.  Untuk menjaga harga dirinya, seseorang akan berusaha dengan segenap tenaga untuk belajar dan mencapai prestasi yang baik.  Penyelesaian tugas dengan baik merupakan simbol kebanggaan dan harga diri. 
e.       Memberi ulangan. Siswa akan giat belajar kalau ada ulangan. Dari segi guru, selain untuk mengetahui seberapa jauh siswa telah mampu menyerap ilmu yang diberikan, dari segi siswa ulangan ini juga merupakan sarana motivasi. Yang perlu dicatat ulangan tidak perlu terlalu sering dan guru harus terbuka apabila ada ulangan harus memberitahukan kepada siswa sebelumnya.
f.        Mengetahui hasil. Dengan mengetahui hasil belajar, apalagi kalau terjadi peningkatan, akan mendorong siswa untuk semakin terus giat belajar dengan harapan hasilnya juga terus meningkat.
g.       Pujian. Apabila ada siswa yang berhasil dengan baik menyelesaikan tugas yang diberikan, perlu diberikan pujian sebagai reinforcement yang positif daan juga merupakan motivasi yang baik. Pujiannya harus tepat waktu dan tidak boleh hanya basa-basi.  Pujian yang tepat akan memupuk suasana yang menyenangkan dan bisa meningkatkan gairah belajar dan membangkitkan harga diri siswa.  Contoh: Pujian/apresiasi yang diberikan seorang guru kepada seorang siswa yang maju ke depan kelas dan berhasil mengerjakan hitungan matematika akan menimbulkan rasa percaya diri.
h.       Hukuman. Hukuman sebagai reinforcement yang negatif kalau disampaikan secara tepat dan bijak bisa menjadi alat motivasi. Guru harus memahami benar prinsip-prinsip pemberian hukuman. Tidak dengan suara tinggi apabila memarahi siswa kalau membuat kesalahan cukup memberikan motivasi kepada ssiswa.
i.        Hasrat untuk belajar. Berarti disini ada unsur kesengajaan, ada maksud dan motivasi untuk belajar dari siswa. Ini lebih baik dibandingkan dengan suatu kegiatan yang tanpa ada maksudnya yang jelas sehingga tentu hasilnya akan lebih baik.
j.        Minat.  Motivasi sangat berhubungan dengan minat. Motivasi muncul karena ada kebutuhan, demikian juga dengan minat sehingga minat merupakan alat motivasi yang penting. Tugas guru mengajar dengan tidak monoton tetapi dengan cara yang kreatif untuk membangkitkan minat siswa (misalnya: bagaimana membuat pelajaran matematika menarik). Minat siswa bisa dibangkitkan dengan cara-cara: membangkitkan adanya suatu kebutuhan, menghubungkan dengan persoalan pengalaman yang lampau, memberi kesempatan mendapatkan hasil yang baik, menggunakan berbagai macam teknik/metode mengajar
k.       Tujuan yang diakui. Tujuan belajar yang diakui dan diterima baik oleh siswa merupakan alat motivasi yang penting. Dengan memahami tujuan yang akan dicapai, karena dirasa sangat bermanfaat, maka timbul gairah untuk terus belajar.
Selain cara-cara di atas, tentunya masih ada cara lain yang dapat digunakan dalam proses belajar-mengajar. Jadi, guru harus menguasai berbagai macam motivasi ini yang dapat dikembangkan guna menghasilkan hasil dan kegiatan  belajar yang bermakna sehingga hasilnya akan bermakna bagi kehidupan siswa.
XI.   Aspek-aspek yang Mempengaruhi Motivasi Belajar Siswa
            Motivasi belajar ada dalam diri siswa. Aspek-aspek di bawah ini akan mempengaruhi  motivasi belajarnya :    
1.       Kecemasan. Adanya perasaan cemas pada siswa. Perasan cemas dalam  batas tertentu merupakan energi/daya dorong yang luar biasa dalam motivasi belajar.  
2.       Sikap. Sikap terhadap sesuatu. Ada suatu kecenderungan pada siswa kalau sikap terhadap sesuatu itu positif, yang bersangkutan ingin mendekat, sedangkan sebaliknya kalau yang dialami itu negatif, siswa cenderung ingin menjauh.  
3.       Keingintahuan.  Adanya rasa penasaran pada diri siswa memunculkan motivasi ingin tahu lebih lanjut.  Ini bisa diperoleh baik melalui mendengarkan guru menjelaskan materi dengan aktif dan juga membeli buku-buku yang relevan.
4.       Kemampuan diri (self efficacy). Kemampuan diri mengendalikan perilaku dan merasa dirinya kompeten. Orang yang merasa dirinya tidak kompeten cenderung semangat belajarnya lemah dan pasif.
5.       Locus of control – penyebab perilaku. Ada 2 macam locus of control, yaitu eksternal Locus of control yang  cenderung memandang orang lain sebagai penyebab terjadinya suatu peristiwa dan Internal Locus of control  yaitu melakukan introspeksi atau   memandang diri sendiri sebagai peneyebab terjadinya peristiwa.
6.      Learned helplessness. Merasa putus asa, hilang semangat atau frustasi karena suatu peristiwa yang terjadi. Contoh:  Anak yang sangat sedih sehingga frustasi ketika tahu bahwa dirinya “unwanted child”.   

XII. Prinsip-prinsip Belajar yang Berhubungan dengan Motivasi

            Dari teori yang dikemukakan para ahli, dapat dirangkum prinsip-prinsip belajar antara lain sebagai berikut:
1) Belajar akan berhasil jika disertai kemauan dan tujuan tertentu. 2) Belajar akan berhasil jika disertai berbuat, latihan dan ulangan. 3) Belajar lebih berhasil jika memberi sukses yang menyenangkan. 4) Belajar lebih berhasil jika tujuan belajar berhubungan dengan aktivitas belajar itu sendiri atau berhubungan dengan kebutuhan hidupnya. 5) Belajar lebih berhasil jika bahan yang sedang dipelajari dipahami, bukan sekedar menghafal fakta. 6) Dalam proses belajar memerlukan bantuan dan bimbingan orang lain. 7) Hasil belajar dibuktikan dengan adanya perubahan dalam diri si belajar. 8) Ulangan dan latihan perlu akan tetapi harus didahului oleh pemahaman.
XIII.   Pentingnya Motivasi dalam Belajar
Menurut Monks,[5] paham-paham interaksionis dan paham tugas perkembangan  mengakui pentingnya pemeliharaan kekuatan motivasi belajar.  Dorongan dari dalam atau kekuatan mental dan pengaruh dari luar berpengaruh terhadap kemajuan individu.  Dalam proses belajar-mengajar, motivasi belajar sangat penting bagi siswa dan guru.  Bagi siswa, motivasi belajar penting karena:
1.      Menyadarkan kedudukan pada awal belajar, proses, dan hasil akhir. Contoh: Apabila seorang siswa membaca bab buku bacaan, dibandingkan dengan teman sekelasnya yang juga membaca bab tersebut; ia kurang berhasil menangkap isinya, maka ia terdorong membaca lagi.
2.      Menginformasikan tentang kekuatan usaha belajar yang dibandingkan dengan teman sebaya. Contoh : Apabila terbukti usaha  belajar seorang siswa belum memadai, maka ia akan berusaha setekun temannya yang belajar dan berhasil.
3.      Mengarahkan kegiatan belajar. Misalnya: Setelah ia mengetahui dirinya belum belajar secara serius, terbukti banyak bergurau, maka ia akan mengubah perilaku belajarnya.
4.      Membesarkan semangat belajar. Jika ia telah menghabiskan dana belajar dan masih ada adik yang dibiayai orang tua, maka ia akan berusaha cepat lulus.
5.      Menyadarkan siswa tentang adanya perjalanan belajar dan kemudian bekerja (disela-selanya ada istirahat dan bermain) yang berkesinambungan. Individu dilatih sedemikian rupa sehingga dapat berhasil. Contoh : Setiap hari siswa diharapkan belajar di rumah, tetapi juga membantu pekerjaan orang tua, dan bermain dengan teman sebaya.  Apa yang dilakukan diharapkan dapat berhasil memuaskan.
Kelima hal tersebut di atas menunjukkan bahwa motivasi perlu disadari oleh pelakunya sendiri. Bila motivasi sudah diketahui dengan baik oleh pelakunya (siswa), maka tugas belajar yang diberikan akan dapat dilakukan dengan sebaik-baiknya tanpa ada paksaan dari luar.
Dari aspek guru, motivasi belajar juga penting diketahui. Pengetahuan dan pemahaman tentang motivasi belajar pada siswa sangat bermanfaat bagi guru,  yaitu:     1) Membangkitkan, meningkatkan, dan memelihara semangat siswa dalam belajar sampai berhasil. 2) Mengetahui dan memahami motivasi belajar siswa di kelas bermacam-macam. 3) Meningkatkan dan menyadarkan guru untuk memilih satu diantara bermacam-macam peran seperti sebagai penasehat, fasilitator, instruktur, teman diskusi, pemberi semangat atau sebagai pendidik, dll. 3) Memberi peluang guru untuk “unjuk kerja” rekayasa pedagogis. Tantangan profesionalnya adalah “mengubah” siswa tak bersemangat menjadi bersemangat belajar dan siswa cerdas yang acuh tak acuh menjadi bersemangat belajar. 
XIV.  Karakteristik Siswa/individu yang Memiliki Motivasi Prestasi Tinggi
        Mengakhiri tulisan ini mengenai masalah motivasi dalam belajar, berikut ini disampaikan ciri-ciri siswa/individu yang memiliki motivasi berprestasi tinggi.  Karakteristik yang dimaksud yaitu: 1) Menyukai situasi atau tugas yang menuntut tangung jawab pribadi atas hasil-hasilnya dan bukan atas dasar untung-untungan, nasib atau kebetulan. 2) Memilih tujuan yang realistik tapi menantang, daripada tujuan-tujuan yang terlalu mudah dicapai atau terlalu besar resikonya. 3) Mencari situasi atau pekerjaan dimana ia memperoleh umpan balik dengan segera dan nyata untuk menentukan baik atau atau tidaknya hasil pekerjaannya. 4) Senang bersaing untuk mengungguli orang lain. 5) Mampu menangguhkan pemuasan keinginannya demi masa depan yang lebih baik. 6) Tidak tergugah untuk sekedar mendapatkan uang, status atau keuntungan lainnya, ia akan mencarinya apabila hal-hal tersebut merupakan lambang suatu prestasi, suatu ukuran keberhasilan.
XV. KESIMPULAN DAN SARAN
Peran Siswa:
1.      Perilaku belajar dilakukan oleh siswa sendiri. Pada dirinya terdapat kekuatan mental penggerak belajar. Kekuatan mental berupa keinginan, perhatian, kemauan dan cita-cita ini disebut motivasi belajar. Komponen utama motivasi tersebut adalah adanya kebutuhan, dorongan dan tujuan siswa. Motivasi belajar perlu dipahami dengan baik oleh siswa karena motivasi intrinsik dapat bersifat lebih sementara dan langgeng. 
Peran Orang Tua:
2.      Perlu kerjasama yang baik antara siswa yang bersangkutan, guru dan orang tua terutama dalam menumbuhkan motivasi dalam diri siswa. Hasil belajar siswa yang ditandai dengan motivasi belajar tinggi/rendah, juga merupakan tanggung jawab orang tua karena hampir 3/4 waktu anak bersama keluarganya. Tidak tepat bila orang tua menyerahkan 100 % pendidikan anaknya pada pihak sekolah dan tidak/kurang memantau proses belajar anaknya di rumah. Orang tua bertugas memperkuat motivasi belajar sepanjang hayat.
Peran Guru:
3.  Jika dikaitkan dengan kegiatan belajar mengajar, siswa akan berusaha untuk selalu mendekati hal-hal yang menyenangkan. Bagi guru, ini merupakan prinsip penting dan tantangan yaitu menimbulkan suasana stimulus yang selalu menyenangkan siswa, sehingga siswa selalu berkeinginan untuk belajar. Bagaimana bertindak dengan taktis dan kreatif dalam mengelola motivasi belajar siswa. Guru harus menumbuhkan motivasi intrinsik siswa. Jangan menuntun siswa mau belajar atau bekerja karena takut dimarahi, dihukum, mendapat angka merah, atau takut tidak lulus dalam ujian. Yang tidak kalah pentingnya, guru perlu mempunyai sifat-sifat positif dan dia sendiri perlu mempunyai motivasi yang tinggi untuk menjamin siswanya turut bersemangat dalam belajar.  

DAFTAR PUSTAKA (Dalam katalog Penulis)