Tampilkan postingan dengan label Psikologi Lansia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psikologi Lansia. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 November 2011


KEPRIBADIAN USIA LANJUT
(LANSIA)
I. PENDAHULUAN
Semakin tingginya pengharapan usia hidup maka dengan sendirinya semakin banyak pula penduduk yang berasia lanjut dalam masyarakat. Orang berusia lanjut perlu dipikirkan kesehatannya. Kesehatan meliputi kesehatan fisik menyangkut kesehatan tubuh sedangkan kesehatan psikis menyangkut terpenuhinya kebutuhan psikis seperti hubungan sosial, kebutuhan dihargai, kebutuhan kehangatan, kebutuhan seks (sebagian merapakan kebutuhan fisik sebagian kebutuhan psikis), prestasi dan sebagainya (Haditono, 1993).
Penting diperhatikan bahwa stereotype masyarakat sering tidak benar, misalnya pendapat bahwa orang usia lanjut tidak lagi membutuhkan hubungan sosial, tidak lagi membutuhkan prestasi, apalagi membutuhkan seks. Orang lanjut usia seakan-akan sudah harus menerima nasib dikucilkan dari masyarakat dan menunggu saat kematian saja (MĂ–nks, 2002)
Pandangan baru telah banyak mengubah pandangan masyarakat semacam itu yang belum tentu benar. Sekarang mulai dimengerti bahwa orang usia lanjut itu masih mempunyai kebutuhan yang sama dengan orang tengah baya atau orang muda, meskipun proporsinya tidak sama. Perlu pula dimengerti bahwa citra orang usia lanjut tidak sama satu dengan yang lainnya. Hal ini menyangkut kenyataan bahwa faktor yang mempengaruhi proses menjadi tua tidak hanya tergantung pada usia kronologis saja, tetapi juga faktor kesehatan, pandangan hidup, sikap ketegaran batin dan sifat lingkungan pada umumnya (Haditono, 1993). Proses menjadi tua merupakan proses individual yang kompleks. Salah satu penilaian kompleksnya kehidupan orang usia lanjut (selanjutnya disingkat lansia) adalah mengenal dan memahami kepribadiannya.
Kepribadian atau personality berasal dari kata persona yang berarti masker atau topeng; maksudnya apa yang tampak secara lahir tidak selalu menggambarkan yang sesungguhnya (dalam bathinnya). Contoh: orang lapar belum tentu mau makan ketika ditawari makanan, pada hal perutnya keroncongan. Orang tidak punya uangdapat berpura-pura punya uang atau sebaliknya. Itulah garabaran kepribadian, bahwa yang tampak bukan yang sebenarnya. Kepribadian adalah semua corak perilaku dan kebiasaan individu yang terhimpun dalam dirinya dan digunakan untuk bereaksi serta menyesuaikan diri terhadap segala rangsangan baik dari luar maupun dari dalam. Corak perilaku dan kebiasaan ini merupakan kesatuan fungsional yang khas pada seseorang. Perkembangan kepribadian tersebut bersifat dinamis, artinya selama individu masih bertambah pengetahuannya dan mau belajar serta menambah pengalaman dan keterampilan, mereka akan semakin matang dan mantap kepribadiannya (Depkes, 1992).
II. MENGENAL DAN MEMAHAMI KEPRIBADIAN LANSIA                     
A. Tipe Kepribadian dan Pola Proses Menjadi Tua
Neugarten, Havighurst, dan Tobin (dalam Neugarten, 1968) dalam penelitian mereka menemukan berbagai tipe kepribadian yang berbeda-beda; semuanya mempunyai hubungan dengan pola proses menjadi tua. Mereka menggunakan tiga kriteria yaitu: (1) tipe kepribadian, (2) banyaknya aktivitas sosial, serta (3) tingkat kepuasan hidup. Usia orang yang diteliti adalah 70 tahun - 79 tahun. Hasil penelitian menunjukkan Pola proses menjadi tua. Bila dilihat bagaimana sikap dan tingkah laku masing-masing kepribadian pada usia lanjut tersebut (Neugarten dkk, 1968) adalah:
1.   Kepribadian yang integrated adalah mereka yang berfungsi baik memiliki kehidupan batin yang kaya, kemampuan kognitif yang baik dan keadaan ego yang kompeten. Mareka fleksibel dan mempunyai sifat dewasa dan terbuka untuk stimulus-stimulus baru. Mereka semua mempunyai kepuasan hidup yang tinggi (bandingkan stadium ke 3 Erikson: sense of lntegraty).
Tipe integrated ini dibedakan sesuai dengan aktivitasnya menjadi:
Pola Reorganizer (A) adalah orang yang integrated yang memiliki aktivitas yang tinggi. Mereka dapat disebut optimum agers. Bila mereka terputus dari aktivitas mereka yang lama, maka mereka akan mulai aktivitas yang baru yang dapat menyebabkan mereka merasa bermakna: melibatkan din dalam aktivitas sosial adalah salah satu contohnya.
Pola Focused (B) adalah mereka yang berkepribadian integrated, mempunyai kepuasan hidup yang tinggi, tetapi hanya memiliki aktivitas yang sedang saja. Mereka menjadi selektif dalam aktivitas mereka dan puas dengan beberapa peran saja, misalnya telah merasa puas dengan perannya sebagai ayah atau ibu rumah tangga, memelihara cucu-cucu, berkebun, memelihara ayam dan sebagainya.
Pola C (disengaged). Golongan ini juga termasuk kepribadian integrated, mempunyai kepuasan hidup tinggi tetapi memiliki aktivitas yang rendah. Mereka dengan suka rela melepaskan diri dari tugas dan tanggung jawab mereka. Mereka tetap merupakan golongan yang luas perhatiannya, terbuka menerima pendapat baru, namun mereka memilih suatu sikap hidup rocking-chair, santai dalam menjalani usia lanjut.
2. Kepribadian yang berikutnya adalah tipe armored atau defended. Golongan ini termasuk golongan yang berambisi tinggi, bermotif prestasi tinggi yang masih menginginkan prestasi, kedudukan dalam masyarakat, berhubungan dengan itu penuh defens terhadap kecemasan dan penuh kontrol terhadap kehidupan emosional mereka. Kelompok kepribadian ini dibedakan dalam dua pola dalam proses menjadi tua.
a. Pola holding on (D). Menjadi tua bagi golongan ini merupakan ancarnan, dari itu mereka ingin mempertahankan kemudaan sampai detik terakhir. Mereka seringkali berhasil dalam usaha mereka mempertahankan ini, dari itu mereka memperoleh kepuasan hidup tinggi dengan aktivitas yang sedang atau tinggi. Mereka berkeyakinan bahwa tetap melakukan aktivitas adalah caranya untuk melawan proses rnenjadi tua.
b. Pola constructed (E). Golongan ini sibuk dengan mempertahankan diri terhadap ketuaan. Karena mereka merasa adanya banyak kemunduran pada diri mereka, maka mereka bermaksud "menghemat" energi mereka dengan sangat membatasi aktivitas dan hubungan sosial mereka melalui penarikan diri dalam keterlibatan dengan orang-orang lain. Dapat dimengerti bahwa golongan ini mempunyai aktivitas yang rendah dengan kepuasan hidup yang tinggi atau sedang.
3. Tipe kepribadian yang passive dependent dibedakan menjadi:
a. Pola succorance-seeking (F). Golongan ini mempunyai kebutuhan tergantung yang tinggi (high dependency needs} dan mengalihkan tanggung jawab pada orang-orang lain. Golcrgan ini mempunyai aktivitas sedang dan kepuasan hidup yang sedang pula. Golongan iri ada dalam keadaan sedang selama mereka dapat menggantungkan diri pada orang lain yang juga dapat memberikan kepuasan emosional pada mereka.
b. Pola apathetic (G). Golongan ini ditandai oleh sikap yang pasif dengan aktivitas rendah serta kepuasan hidup sedang atau rendah. Mereka juga merupakan orang rocking chair, tetap dengan struktur kepribadian yang lain daripada golongan disengaged. Golongan apathetic mempunyai sikap pasif dan apatis, misalnya dikemukakan contoh seorang laki-laki yang dalam wawancara menyuruh isterinya untuk menjawab semua pertanyaan yang ditujukan pada dirinya.
4.      Tipe kepribadian yang keempat adalah tipe unintegrated. Golongan ini mempunyai banyak kemunduran bahkan kerusakan pada fungsi psikisnya, kehidupan kontrol terhadap emosi dan banyak kemunduran dalam fungsi kognitifnya. Mereka menunjukkan suatu disorganized (H) dalam proses menjadi tua. Mereka dapat mempertahankan hidup dalam masyarakat tetapi dengan aktivitas dan kepuasan hidup yang rendah. Uraian di atas menunjukkan bahwa baik teori aktivitas maupun teori pelepasan belum seluruhnya menunjukkar, kebenaran bagi kepuasan hidup orang lanjut usia (optimum aging atau succesfull aging). Kajian terhadap kelangsungan sifat-sifat kepribadian seseorang perlu diintensifkan. Faktor tipe kepribadian merupakan faktor yang sangat penting dalam rneninjau pola proses orang menjadi tua dan dalam meninjau hubungan antara aktivitas sosial dan kepuasan hidup orang lanjut usia
B. Kepribadian Lansia Cerminan dari Kepribadian Masa Muda
Pada lansia yang sehat, kepribadiannya tetap berfungsi dengan baik, kecuali kalau mereka mengalami gangguan kesehatan jiwanya atau tergolong patologik. Sifat kepribadian seseorang sewaktu muda akan lebih nampak jelas setelah memasuki lansia sehingga masa muda diartikan sebagai karikatur kepribadian lansia. Dengan memahami kepribadian lansia tentu akan lebih memudahkan masyarakat secara umum dan anggota keluarga lansia tersebut secara khusus, dalam memperlakukan lansia dan sangat berguna bagi kita dalam mempersiapkan diri jika suatu hari nanti memasuki masa lansia. Adapun beberapa tipe kepribadian lansia (Zainuddin Sri kuntjoro, 2003) adalah sebagai berikut:
1. Tipe Kepribadian Konstruktif (Constructive Personality)
Model kepribadian tipe ini sejak muda umumnya mudah menyesuaikan diri dengan baik terhadap perubahan dan pola kehidupannya. Sejak muda perilakunya positif dan konstruktif serta hampir tidak pernah bermasalah, baik di rumah, di sekolah maupun dalam pergaulan sosial. Perilakunya baik, adaptif, aktif, dinamis, sehingga setelah selesai mengikuti studi ia mendapatkan pekerjaan juga dengan mudah dan dalam bekerjapun tidak bermasalah. Karier dalam pekerjaan juga lancar begitu juga dalam kehidupan berkeluarga; tenang dan damai semua berjalan dengan normatif dan lancar. Dapat dikatakan bahwa tipe kepribadian model ini adalah tipe ideal, seolah-olah orang tidak pernah menghadapi permasalahan yang menggoncangkan dirinya sehingga hidupnya terlihat stabil dan lancar. Jika tipe kerpibadian ini terlihat seolah-olah tidak pernah bermasalah hal itu terjadi karena tipe kepribadian model ini mudah menyesuaikan diri, dalam arti juga pandai mengatasi segala permasalahan dalam kehidupannya. Sifatnya pada masa dewasa adalah mempunyai rasa toleransi yang tinggi, sabar, bertanggung jawab dan fleksibel, sehingga dalam menghadapi tantangan dan gejolak selalu dihadapi dengan kepala dingin dan sikap yang mantap.
Pada masa lanjut usia model kepribadian ini dapat menerima kenyataan, sehingga pada saat memasuki usia pensiun ia dapat menerima dengan suka rela dan tidak menjadikannya sebagai suatu masalah, karena itu post power sindrome juga tidak dialami. Pada umumnya karena orang-orang dengan kepribadian semacam ini sangat produktif dan selalu aktif, walaupun mereka sudah pensiun akan banyak yang menawari pekerjaan sehingga mereka tetap aktif bekerja di bidang lain ataupun ditempat lain. Itulah gambaran tipe kepribadian konstruktif yang sangat ideal, sehingga mantap sampai lansia dan tetap eksis di hari tua (Thomae, 1970).
2. Tipe Kepribadian Mandiri (Independent Personality)
Model kepribadian tipe ini sejak masa muda dikenal sebagai orang yang aktif dan dinamis dalam pergaulan sosial, senang menolong orang lain, memiliki penyesuaian diri yang cepat dan baik, banyak memiliki kawan dekat namun sering menolak pertolongan atau bantuan orang lain. Tipe kepribadian ini seolah-olah pada dirinya memiliki prinsip "jangan menyusahkan orang lain" tetapi menolong orang lain itu penting. Jika mungkin segala keperluannya diurus sendiri, baik keperluan sekolah, pakaian sampai mencari pekerjaan dan mencari pasangan adalah urusan sendiri. Begitu juga setelah bekerja, dalam dunia kerja ia sangat mandiri dan sering menjadi pimpinan karena aktif dan dominan. Perilakunya yang akif dan tidak memiliki pamrih, justru memudahkan gerak langkahnya, biasanya ia mudah memperoleh fasilitas atau kemudahan-kemudahan lainnya sehingga kariernya cukup menanjak, apalagi jika ditunjang pendidikan yang baik, maka akan mengantarkan model kepribadian yang mandiri menjadi pimpinan atau manajer yang tangguh.
Dalam kehidupan berkeluarga model kepribadian ini umumnya sangat dominan dalam mengurus keluarganya. Semua dipimpin dan diatur dengan cekatan sehingga semua beres. Seolah-olah dalam benaknya anak istri tidak boleh kerepotan dan jangan merepotkan orang lain. Model tipe ini adalah ayah atau ibu yang sangat perhatian pada anak-anak dengan segala kebutuhannya.
Bagaimana model kepribadian tipe ini memasuki masa pensiun dan masa lansia? Disinilah mulai timbul gejolak, timbul perasaan khawatir kehilangan anak buah, teman, kelompok, jabatan, status dan kedudukan sehingga cenderung ia menunda untuk pensiun atau takut pensiun atau takut menghadapi kenyataan. Termasuk dalam kelompok kepribadian model ini adalah mereka yang sering mengalami post power syndrome setelah menjalani masa pensiun. Sedangkan tipe kepribadian ini yang selamat dari syndrome adalah mereka yang biasanya telah menyiapkan diri untuk memiliki pekerjaan baru sebelum pensiun, misalnya wiraswasta atau punya kantor sendiri atau praktek pribadi sesuai dengan profesinya masing-masing dan umumnya tidak tertarik lagi bekerja disuatu lembaga baru  kecuali diserahi penuh sebagai pimpinan.
3. Tipe Kepribadian Tergantung (Dependent Personality)
Tipe kepribadian tergantung ditandai dengan perilaku yang pasif dan tidak berambisi sejak anak-anak, remaja dan masa muda. Kegiatan yang dilakukannya cenderung didasari oleh ikut-ikutan karena diajak oleh temannya atau orang lain. Karena pasif dan tergantung, maka jika tidak ada teman yang mengajak, timbul pikiran yang optimistik, namun sukar melaksanakan kehendaknya, karena kurang memiliki inisiatif dan kreativitas untuk menghadapi hal-hal yang nyata. Pada waktu sekolah mereka biasanya dikenal sebagai siswa yang pasif, tidak menonjol, banyak menyendiri, pergaulannya terbatas sehingga hampir-hampir tidak dikenal kawan sekelasnya. Begitu juga saat menjadi mahasiswa, biasanya serba lambat karena pasif sehingga masa studinya juga lambat. Dalam mencari pekerjaan orang tipe ini biasanya tergantung pada orang lain, sehingga masuk usia kerja juga lambat dan kariernya tidak menyolok. Dalam bekerja lebih senang jika diperintah, dipimpin dan diperhatikan oleh orang lain atau atasan, namun jika tidak ada perintah cenderung pasif seolah-olah tidak tahu apa yang harus dilakukan. Dalam pergaulan sehari-hari mereka cenderung menunggu ajakan teman namun sesudah akrab sulit melupakan jasa baik temannya.
Dalam kehidupan perkawinan, karena orang pasif biasanya menikah terlambat dan memilih istri atau suami yang dominan, maka dalam kehidupan keluarga biasanya akur, akrab, tentram tidak banyak protes, pokoknya mengikuti kehendak suami atau istri. Pada saat pensiun mereka dengan senang hati menerima pensiun dan dapat menikmati hari tuanya. Masalah akan timbul jika pasangan hidupnya meninggal duluan. Kejadian tersebut seringkali mengakibatkan mereka menjadi merana dan kadang-kadang juga cepat menyusul, karena kehilangan pasangan merupakan beban yang amat berat sehingga mengalami stress yang berat dan sangat menderita.
4. Tipe Kepribadian Bermusuhan (Hostility Personality)
Tipe Kepribadian bermusuhan adalah model kepribadian yang tidak disenangi orang, karena perilakunya cenderang sewenang-wenang, galak, kejam, agresif, semauanya sendiri dan sebagainya. Sejak masa sekolah dan remaja biasanya mereka sudah banyak masalah, sering pindah-pindah sekolah, tidak disenangi guru, dijauhi kawan-kawan sehingga sebagai siswa reputasinya negatif. Begitu juga setelah jadi mahasiswa, dikampus biasanya mereka dikenal sebagai tukang bikin ribut, prestasi akademik kurang, namun biasanya pandai pacaran, ganti-ganti pacar, berjiwa petualang (avonturir) dan mudah terjerumus dalam minum-minuman keras, menggunakan narkotik dan sejenisnya. Dalam dunia kerja umumnya mereka tidak stabil, senang pindah-pindah kerja atau pekerjaannya tidak menentu. Kalau menjadi pejabat cenderung foya-foya, menghalalkan segala cara dan semua keinginan harus dituruti, demi memberikan kepuasan diri. Tipe ini juga dikenal tidak mau mengakui kesalahannya dan cenderung mengatakan bahwa orang lah yang berbuat salah, banyak mengeluh dan bertindak agresif atau destruktif, pada hal dalam kenyataan mereka lebih banyak berbuat kesalahan.
Model kepribadian bermusuhan ini juga takut menghadapi masa tua, sehingga mereka berusaha minum segala jenis jamu atau obat agar terlihat tetap awet muda, mereka juga takut kehilangan power, takut pensiun dan paling takut akan kematian. Biasanya pada masa lansia ornag-orang dengan tipe ini terlihat menjadi rakus, tamak, emosional dan tidak puas dengan kehidupannya, seolah-olah ingin hidup seribu tahun lagi.
5. Tipe Kepribadian Kritik Diri (Self Hate Personality)
Tipe kepribadian kritik diri ditandai adanya sifat-sifat yang sering menyesali diri dan mengkritik dirinya sendiri. Misalnya merasa bodoh, pendek, kurus, terlalu tinggi, terlalu gemuk dan sebagainya, yang menggambarkan bahwa mereka tidak puas dengan keberadaan dirinya. Sejak menjadi siswa mereka tidak memiliki ambisi namun kritik terhadap dirinya banyak dilontarkan. Kalau dapat nilai jelek, selalu mengkritik dirinya dengan kata dasar orang bodoh maka malas belajar. Begitu juga setelah dewasa dalam mencari pekerjaan dan bekerja juga tidak berambisi yang penting bekerja namun karier tidak begitu diperhatikan. Keadaan itu biasanya juga mengakibatkan kondisi sosial ekonominya juga menjadi pas-pasan, karena sulit diajak kerja keras.
Dalam kehidupan berkeluarga juga tidak berambisi, syukur kalau dapat jodoh, namun setelah nikah hubungan suami istripun tidak mesra karena selalu mengkritik dirinya dengan segala kekuangannya. Karena kurang akrab berkomunikasi dengan suami atau istri, maka mudah terjadi salah paham, salah pengertian dan mudah tersinggung. Kehidupan dalam keluarga kurang hangat dan kurang membahagiakan dirinya. Dalam menghadapi masa pensiun mereka akan menerima dengan rasa berat, karena merasa lebih tidak berharga lagi dan tidak terpakai. Model kepribadian inilah yang sering terlihat pada lansia yang antara suami dan istri menjadi tidak akur, sehingga masing-masing mengurusi kebutuhan sendiri-sendiri, tidak saling menegur dan saling mengacuhkan walaupun hidup dalam satu atap.
C. Kepribadian Lansia dan Pengalaman Menopouse pada Wanita
Mitos yang populer tentang menopouse adalah perubahan perilaku menjadi mudah marah, suasana hati yang buruk serta depresi tanpa sebab yang jelas. Namun penelitian dan Universitas Pittsburgh (Peterson dkk, 1988) menunjukkan hal sebaliknya. Menopouse tidak mendorong berubah-ubahnya suasana hati, depresi maupun stres pada wanita. Bahkan pada beberapa kasus justru meningkatkan kesehatan jiwa. Dapat  dikatakan bahwa menopouse bukan  selalu  merupakan pengalaman buruk  (Kompas, 2001). Ada beberapa tipe kepribadian yang dimunculkan berkaitan dengan menopouse (Peterson dkk, 1988),  sebagai berikut:
1. Matuare :
- Mudah menyesuaikan diri
- Bebas Konflik
- Puas pada diri sendiri
2. Rockind-Chaimen :
-  Pasif dan bahagia karena bebas tanggung jawab
- Menikmati hari tua, pua dengan pencapaian saat sekarang
- Tidak bergairah untuk meningkatkan diri
- Lansia adalah kebahagiaan
3. Angry Man :
- Merasa dirinya kurang berhasil, kecewa
- Menuduh orang lain sebagai penyebab kesedihan
- Menolak kenyataan menjadi tua
Bagi sebagian wanita, fase menopouse justru disambut dengan gembira karena tidak lagi direpotkan dengan urusan anak dan rumah tangga sehingga memiliki banyak waktu untuk melakukan kegiatan yang disukai, tipe wanita seperti ini adalah tipe kepribadian matuare.
Pada sebagian wanita menopouse menyebabkan mereka kehilangan gairah seksual. Penurunan kadar eksterogen memang mengubah elastisitas genital. Menurut para ahli, penurunan gairah tidak hanya terkait dengan struktur fisik, tetapi juga erat kaitannya dengan masalah interpersonal, faktor psikologis dan budaya. Misalnya merasa tua dan tidak pantas memikirkan tentang seks lagi atau gairah menurun _nkarena memang telah berkurangnya frekuensi melakukan hubungan seks. Tipe kepribadian seperti ini adalah tipe Rocking-Chaiman.
Tipe wanita Angry Man sebagian ada yang menolak kenyataan menjadi tua sehingga menimbulkan depresi. Kebanyakan kasus depresi steres kehidupan. Misalnya perubahan-perubahan kehidupan keluarga pada saat anak-anak menginjak dewasa dan mulai mandiri, ibu merasa tidak lagi dibutuhkan, parubahan sosial dengan lingkungan, kehilangan anggota keluarga, pertambahan usia dan mulai sakit-sakitan.
Pada akhirnya, menopouse menakutkan atau menyenangkan tergantung bagaimana seseorang mengelola stress dan menghadapi kehidupannya, ada yang bersikap negatif ada yang positif, hal ini pun tidak lepas dari basic kepribadian individu.
III. PENUTUP

Realita kehidupan manusia tidak akan pernah berubah dalam tiap proses yang dijalani. Perabahan yang terjadi tidak lain hanya karena situasi dan kondisi hidup yang berbeda. Mulai dari proses lahir, hadir, berarti dalam menjalani hidup hingga hari senja (usia lanjut) semuanya adalah hal yang kodrati ibarat rotasi bumi. Maka untuk menjalani hari tua, penentu awal adalah perjalanan hidup yang mendahuluinya (masa muda). Rentetan kehidupan akan terus berjalan dan terkait erat dengan tiap tahap yang dilalui sebagai penjelmaan penilaian hidup dalam wujud kepribadian lansia.

DAFTAR PUSTAKA
Dalam Katalog Penulis

Sabtu, 05 November 2011


Penyakit Alzhaimer dan Implikasinya Terhadap Perubahan
Pola Kepribadian Lanjut usia

A. Pendahuluan

Keberhasilan pembangunan nasional, khususnya dibidang kesehatan, menghasilkan dampak positif yakni meningkatnya umur harapan hidup waktu lahir. Di Indonesia tahun 1995 - 2000, pada pria 63, 6 tahun dan pada wanita 66,7 tahun. Jumlah lansia pada tahun 2000 diperkirakan 15.262.199 orang atau 7,28 % dari jumlah penduduk (Anwar, 1994 ).
            Sebelum menelaah lebih lanjut mengenai aspek kesehatan lanjut usia ( lansia ), ada baiknya kita melihat batasan-batasan seseorang dikatakan lansia. Seseorang dapat dikategorikan lansia dapat  dipandang dari segi fisik, terjadi kemampuan fisik pada lanjutusia, dimana intensitas dan kecepatannya sangat beragam pada masing-masing individu. Tidak demikian halnya dengan kemampuan psikisnya ( fungsi kognisi dan emosi ). Pada usia lanjut terungkap bahwa kepribadian tetap berkembang dan setiap individu ingin mencapai apa yang disebut dengan integritas ego. Kepribadian yang stabil perlu diraih oleh lansia, sehingga dalam menghadapi perubahan fisik maupun kemunduran fungsi lainnya dapat dihadapi dengan tetap tenang. Para lansia perlu mengetahui sacara realistis apa yang akan terjadi pada masa tua dengan sewajarnya.
            Menjadi tua adalah merupakan hal yang tidak dapat dihindari dalam proses kehidupan manusia (Schale dan Willis, 1991) Erickson (1991) menerangkan bahwa usia lanjut merupakan tahap perkembangan yang harus dijalani manusia dengan tugas menjaga keseimbangan antara intergritas dan putus asa (Despan). Nengarten (1985) menyatakan bahwa batasan lansia harus dilihat dari kondisi fisik dan mentalnya. Untuk memperjelas konsep yang berkaitan dengan keberadaan lansia, maka digunakan batasan berdasarkan umur kalender walaupun dianggap kurang memuaskan, mengingat umur kalender bukan merupakan umur psikologis (Duset, 1977). Tilker (1975) mengemukakan bahwa masa usia lanjut dimulai pada usia lebih kurang 60 tahun. Palmutter dan Hall (1985) menyatakan bahwa masa tua atau lansia pada usia 60 tahun dan dibedakan menjadi masa tua awal (60 –75 ) tahun dan masa tua akhir (75 tahun – meninggal). Haditono menyebutkan bahwa masa tua dimulai pada usia 65 tahun untuk menandai masa tua, dengan alasan bahwa individu pada usia tersebut banyak memperoleh fasilitas.
            Berbagai resiko penyakit yang sering muncul pada lansia adalah sesuatu yang alamiah dikarenakan menurunnya berbagai fungsi fisik dan psikis. Baik perubahan pada fungsi tubuh, struktur organ, pengaruh obat, frekuensi penyakit dan faktor pengaruh dari luar, sifat penyakit pada lanjut usia berbeda ( Departemen Kesehatan RI), yaitu:
a.       Gejala penyakit yang lebih tersamar.
b.      Gejala atipik dibanding usia muda.
c.        Gejala non spesifik.
d.      Gejala penyakit yang berubah-ubah, karena usia lanjut sering mengidap lebih dari dua macam penyakit.
e.       Ambang rasa sakit lebih tinggi.
f.       Inaktivitas sering menyamarkan keluhan yang dialami dan dirasakan
Menurut International Institute on Aging, World Health Organization ( Malta, 1998), penyakit alzhaimer digolongkan kepada penyakit degeneratif. Alzhaimer disebabkan oleh proses degeneratif yang progresif diotak dengan proses kematian pasif sel-sel dipermukaan bagian-bagian otak (cortex celebral) tertentu yang memantau pikiran, daya ingat, memori dan bahasa.
B. Pembahasan

I. Pengertian Penyakit Alzhaimer

            Penyakit alzhaimer (Alzhaimer Disease-AD), adalah gangguan penurunan fungsi kognitif seperti daya ingat dan daya pikir lainnya. Pasien menjadi sulit belajar hal baru, mengingat nama benda, mencari kata-kata untuk diucapkan, kemampuan mengenali ruang, waktu, benda atau orang, hitung-menghitung (kalkulasi) kemampuan membuat perencanaan dan berabstraksi.
Dimensia pada usia lanjut sering dianggap lumrah oleh masyarakat Indonesia, karena dianggap usia lanjut adalah merupakan bagian dari fase kehidupan, dimana seseorang mengalami perubahan secara biologis, psikologis maupun sosial, kulit menjadi keriput, kekuatan otot berkurang, daya ingat yang mulai menurun kadangkala menganggu aktifitas kehidupan sehari-hari. Tidak jarang hal ini membuat ketegangan dan salah pengertian diantara anggota keluarga. Berbagai peristiwa kehidupan seperti kematian pasangan hidup, anak menikah, pensiun, menderita penyakit kronis, dapat menjadi beban pikiran dan sumber stress.
            Kemunduran fungsi kognitif ini lazimnya terjadi pada usia antara 40 – 90 tahun, penyebabnya kemungkinan besar adalah hilangnya beberapa fungsi otak akibat hilang atau rusaknya sel-sel otak dalam jumlah besar termasuk menurunya zat kimia dalam otak. Biasanya volume otak mengecil sehingga rongga-rongga otak melebar.  Para ahli umumnya belum dapat mengatahui secara pasti diduga merupakan interaksi antara faktor keturunan (genetik) dengan faktor lingkungan. Gejala pertama penyakit alzhaimer biasanya adalah gangguan memori daya ingat, gangguan bahasa dan disorientasi. Penyakit ini umumnya dijumpai pada usia 65 tahun keatas, tetapi tidak menutup kemungkinan ditemukan pada usia yang lebih muda, walaupun persentasenya sangat sedikit. Dinegara maju sekitar 3 persen dari orang berusia diatas 65 sampai 74 tahun menderita penyakit alzhaimer dan persentase ini meningkat hingga 50 persen pada usia diatas 85 tahun. Penelitian di Eropa antara tahun 1980-1990 oleh Rocca dan kawan-kawan (1991) menunjukan angka kejadian yang meningkat seiring bertambahnya umur , yaitu masing-masing 0.02, 0.3, 3.1 dan 10.8 persen pada kelompok umur 30-59, 70-79, dan 80-89 tahun. Penyakit alzhaimer paling banyak terjadi di Eropa dan Amerika Serikat, dibandingkan kepikunan akibat gangguan peredaran darah (stroke). Tetapi kebalikannya terjadi di Rusia, Jepang dan China.
            Gangguan dari fungsi kognisi mudah dikenal dan terutama mengenai daya ingat atau memori daya ingat. Mekanisme daya ingat dapat dibagi kedalam empat bagian :
1)      Kemampuan menyimpan informasi untuk waktu singkat, umpamanya mengingat nomor telepon sampai selesai memutarnya dengan cepat. memori ini disebut memori seketika (immediated term memory).
2)      Kemampuan menyimpan informasi lebih lama dan lebih banyak (memori jangka pendek atau short term memory).
3)      Kemampuan menyimpan informasi jangka panjang (long term memory) contohnya mengingat kejadian yang dialami dan berhubungan dengan waktu. Serta kemampuan untuk mengingat arti kata dan simbolik atau semantic.
4)      Kemampuan yang merupakan kombinasi ( perpaduan ) antara immadiated term, short term dan lomg term memory. 
Penyakit alzhaimer juga menunjukan gejala keterlupaan (forgetfulness) yang lebih dikenal di masyarakat kita dengan istilah pikun, bahkan laju penyakitnya sering diawali oleh gejala itu. Tetapi selama ini masih dianggap ada batas tegas antara gejala mudah-lupa yang normal dengan penyakit alzhaimer yang menunjukan gejala mudah-lupa tetapi tidak normal lagi.
     Pada beberapa decade terakhir ini ada penemuan baru yang menyatakan bahwa penyakit alzhaimer merupakan penyakit kepikunan (dimensia) yang awal perjalanan penyakitnya sering dimulai dengan keterlupaan yang normal tersebut. Ternyata antara kedua kondisi itu ada stadium transisi yang oleh para pakar disebut Mild Cognitive Impairment (MCI). MCI atau gangguan kognitif ringan menunjukan serentetan gejala khusus yang tidak sama dengan mudah-lupa normal dan penyakit alzhaimer. Orang yang menyandang MCI mempunyai resiko tinggi untuk mengidap penyakit alzhaimer dengan rasio 12 sampai 15 persen setiap tahun. Banyak penderita alzhaimer yang pada awal perjalanan penyakitnya menunjukan gejala MCI.  MCI merupakan resiko tinggi untuk alzhaimer, tetapi perlu diketahui bahwa diagnosis MCI bukan berarti bahwa penyandangnya harus selalu akan menderita alzhaimer.
Di Amerika Serikat dan kanada pada tahun 1999 telah didirikan pusat penelitian yang dinamakan Memory Impairment Study untuk melakukan penelitian terhadap pengaruh obat-obatan pada para penyandang MCI berusia 55 sampai 90 tahun.
Sampai saat ini intervensi farmakologis (obat), fisik dan mental terhadap penyakit alzhaimer masih dilakukan dengan criteria adanya tanda kepikunan mulai dari stadium ringan sampai berat. Padahal kenyataan membuktikan bahwa intervensi pada penyakit alzhaimer makin efektif hasilnya jika diberikan pada stadium sedini mungkin.
Dengan adanya diagnosis MCI yang kriterianya antara lain tidak adanya tanda-tanda kepikunan, tetapi merupakan resiko tinggi untuk penyakit alzhaimer.
Sudah banyak upaya dilakukan untuk memerangi kepikunan alzhaimer ini. WHO telah mengembangkan criteria untuk kepikunan dalam Tenth Revision of the International Classification of Diseases (ICD-10) yang dapat digunakan secara internasional.  Telah dikembangkan juga berbagai tes kognitif dan criteria evaluasi. Semua ini dalam rangka menyamakan patokan penelitian, pengobatan dan penyembuhan. Di Amerika Serikat terdapat sekitar empat juta penderita alzhaimer dan 2,7 juta penyandang MCI, 234 orang normal dan 106 penderita alzhaimer ringan dan melaporkan bahwa MCI dapat berkembang menjadi alzhaimer dengan laju 12 persen setahun, sedangkan pada orang normal hanya dengan laju 2 persen.
Secara klinis, keluhan mudah lupa pada orang normal, pada MCI dan pada alzhaimer dapat dibedakan. Pada umumnya gejala MCI adalah keluhan mudah lupa, kemampuan daya ingat yang abnormal bagi ukuran usia dan pendidikan, aktivitas kehidupan sehari-hari normal, fungsi kognitif secara umum normal dan sedikit tanda kepikunan. Gejala mudah lupa pada ketiga kondisi itu mempunyai ciri masing-masing. 
2. Alzhaimer dan implikasinya terhadap perubahan pola kepribadian
    lansia.
            Penyebab penyakit alzhaimer sampai saat ini belum diketahui secara pasti. Tadinya penyakit ini diduga merupakan interaksi antara factor  keturunan (genetic) dengan factor lingkungan. Gejala psikiatrik dan perubahan perilaku pada penderita alzhaimer sangat sering terjadi, yang mengganggu pasien maupun keluarganya. Pasien dapat menjadi agresif, keluyuran (wandering), kegelisahan yang amat sangat (restlessness), adanya waham (pikiran yang aneh dan tidak logis), halusinasi, gangguan tidur dan kecemasan. Penyebab terjadinya perubahan perilaku yang menyebabkan berubahnya pola kepribadian yaitu dengan adanya perubahan zat-zat kimia diotak  (neurotransmitter) maupun mengecilnya volume otak akibat kerusakan sel otak. Volume otak penderita alzhaimer mengecil dan mengkerut  sehingga beberapa fungsi otak  dapat terganggu. Secara psikologis, pasien mengalami gangguan seperti waham (delusi). Pasien mempunyai pikiran atau keyakinan yang keliru , namun tetap diyakininya betul. Kekeliruan itu sulit dikoreksi meski disodorkan bukti bahwa hal itu tidak benar .
            Penyakit alzhaimer sering menyebabkan efek samping dikelompokkan menjadi beberapa bagian. Meskipun masalah memori merupakan suatu tanda adanya gangguan, pada beberapa hal kemungkinan besar mengarah pada perilaku atau gangguan kejiwaan yang menjadikan perawatan dirumah menjadi sukar untuk dilakukan dan pada beberapa kasus alzhaimer menjadi sesuatu yang mustahil (Kumar, Koss, Metzler, Moore & Friedland, 1988….). Masalah kejiwaan adalah masalah yang paling menonjol pada pasien alzhaimer (Patterson,et.al, 1999). Beberapa perubahan pola kepribadian penting juga untuk dipahami, sehingga kita dapat merasakan dan memberikan kepedulian pada beban yang tengah mereka alami. (Petry et al, 1988)
            Perubahan perilaku yang tidak tampak dan mempunyai kesan, merupakan petunjuk awal terjadinya gangguan alzhaimer (Petry et al, 1988). Rubin et al (1986) dalam membandingkan antara gangguan kejiwaan yang berat, dan gangguan yang ringan, serta pokok permasalahan yang biasa pada masa lansia digunakan analisis factor untuk mengidentifikasi empat ukuran pada kepribadian dan perilaku dimana terjadi perubahan pada: a). perilaku pasif, yang terdiri atas lamban, gelisah, pemurung dan kurang mendengarkan) dimana terjadi dalam 66 persen gangguan alzhaimer ringan, 50 persen kelompok gangguan alzhaimer berat dan tidak ada sama sekali pada lansia normal, b). perilaku egosentris (mementingkan diri sendiri, tidak ada perhatian dan kebersahajaan untuk orang lain serta kehilangan control emosi) yang terjadi dalam 34 persen kelompok gangguan, 31 persen pada kelompok gangguan berat dan 4 persen dari kelompok control, c) perilaku yang terganggu (emosional dan sangat aktif) dimana terjadi dalam 30 persen gangguan dan 30 persen gangguan berat dan 5 persen pada lansia normal, d) kecurigaan dimana biasanya jarang terjadi dan hanya ditemukan pada 5 persen kelompok gangguan secara keseluruhan, beberapa macam perubahan perilaku digambarkan untuk 77 persen kelompok gangguan alzhaimer ringan, 62 persen pada kelompok gangguan alzhaimer berat dan hanya 10 persen yang normal. Hal ini berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Case Western University/University Hospital Alzaimer terhadap 22 pasien. Dengan menggunakan diagnosa pada Diagnosis and Statistical Manualof Mental Disorders, semua subyek diterima untuk melengkapi pemeriksaan neurologis termasuk CT pada pengamatan kesan. Rata-rata umur pasien adalah 72 tahun dengan rata-rata telah menempuh pendidikan 12,6 tahun. Pola kepribadian yang diamati mencakup  variabel personalitas yaitu conscientiousness (bertanggungjawab), neurotitism (kegelisahan), extraversion (ekstraversi), agreeableness (kecocokan), dan openess (keterbukaan). Hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa ada kecenderungan perubahan pola perubahan kepribadian lansia setelah menderita alzhaimer.
3. Terapi
            Ada dua cara penanggulangan gangguan perilaku dan psikologis pada penderita alzhaimer, yaitu terapi non-obat (psikoterapi) dan terapi dengan obat (farmakoterapi). Terapi non obat umumnya untuk mengatasi gejala psikologis dan perilaku yang masih tergolong ringan. Metode non obat lazimnya untuk mengatasi gejala depresi ringan, apatis dan keluyuran.
            Lingkungan harus dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan pasien, karena pasien alzhaimer pada dasarnya tidak mampu lagi melakukan adaptasi dengan lingkungan, misalnya agar ditata sehingga tidak membuat stress dan perasaan tidak terasing bagi pasien. Metode ini hanya efektif untuk fase awal gangguan alzhaimer. Terapi yang bersifat non-obat ini harus diikuti dengan pemberian obat jika gangguan psikologis dan gangguan perilaku pasien yang sudah dianggap parah. Pemberian obat tentu saja harus memperhatikan efek samping dan juga kondisi pasien secara umum. Pada umumnya gangguan psikologis dan perilaku pada pasien alzhaimerdapat diatasi dengan obat golongan psikotropik (antipsikotik, antidepresi, anticemas, dan sebagainya)
            Satu hal lagi, gangguan perilaku pada penderita alzhaimer mudah dikenali dari pengamatan terhadap perilaku pasien sehari-hari. Sedangkan gangguan psikologis (waham, halusinasi, depresi) yang menyebabkan perubahan perilaku pasien dapat diketahui melalui pemeriksaan/wawancaradengan seorang dokter ahli yang berpengalaman dalam bidang ini. Baik gangguan psikologis maupun gangguan perilaku, keduanya merupakan kesatuan yang tidak terpisahkan dalam perjalanan alzhaimer ini. Gejala psikologis dan perilaku ini sangat mengganggu dan menjadi beban/sumber stress bagi keluarga pasien.


DAFTAR PUSTAKA
Milton E. Strauss, Monisha Pasuphati & Anjan Chattereje, Concordance between Observers in Description of Personality Change in Alzhaimer Disease, American Psychological Association, Psychology and Aging, vol 8 no. 4, 475-480, 1993.
Patricia A. O’Learey, William E Halley & Penelope B. Paul, Behavioral Assesment in Alzhaimer Disease : Use of a 24-hr log, American Psychological Association, Psychology and Aging, vol 8 no. 2, 139-143, 1993